Pendidikan
Demonstrasi Anarkis, Cederai Budaya Malaqbi Sulawesi Barat
Ketika demonstrasi berujung ricuh, bukan hanya fasilitas publik yang terbakar, tetapi juga nilai-nilai Malaqbi yang kita junjung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Gubernur-Sulawesi-Barat-Dr-H-Suhardi-Duka.jpg)
Oleh: Suhardi Duka
DEMONSTRASI adalah hak konstitusional. Namun, ketika penyampaian aspirasi berubah menjadi aksi anarki, luka yang ditinggalkan tak hanya berupa puing-puing bangunan, tetapi juga robeknya harmoni sosial, hilangnya kepercayaan publik, dan tercorengnya martabat daerah.
Bagi masyarakat Mandar, filosofi Malaqbi bukan sekadar simbol—ia adalah kompas moral yang menuntun laku hidup.
Nilai-nilai luhur sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling memuliakan), dan sipakainge (saling mengingatkan) adalah napas kehidupan orang Mandar.
Leluhur kita mengajarkan: “Perselisihan diselesaikan di Baruga, bukan di jalanan; dengan musyawarah, bukan dengan api dan batu.”
Ketika demonstrasi berujung ricuh, bukan hanya fasilitas publik yang terbakar, tetapi juga nilai-nilai Malaqbi yang kita junjung.
Kita seperti membakar rumah sendiri, tak hanya bangunannya hancur, tetapi nama baik, peluang, dan masa depan anak cucu kita turut menjadi abu.
Tiga Luka Anarki yang Mengancam Masa Depan Sulawesi Barat
1. Luka Ekonomi – Tertutupnya Pintu Kemajuan
Setiap kerusuhan menggerus stabilitas ekonomi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat pada tahun ini mencapai 5,21 persen dan diproyeksikan terus membaik.
Namun, potensi ini terancam terhenti jika kerusuhan terus berulang.
Investor akan kehilangan kepercayaan. Pelaku UMKM merugi, distribusi barang tersendat, dan proyek-proyek strategis bisa mangkrak.
APBD yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat, akhirnya dialihkan untuk memperbaiki kerusakan akibat aksi anarkis.
Ini adalah kemunduran yang mahal dan tidak produktif.
| POTRET Puluhan Siswa di Pelosok Pasangkayu Belajar di Gereja |
|
|---|
| Peduli Anak Pemkab Pasangkayu Kembalikan 400 ATS Kembali Bersekolah |
|
|---|
| Kondisi Ekonomi Keluarga Membuat Anak di Pasangkayu Memilih Bekerja Ketimbang Sekolah |
|
|---|
| PUPR Pasangkayu Alokasikan Rp60 Miliar Infrastruktur Termasuk Jalan ke Sekolah |
|
|---|
| Minat Sekolah Rendah Pemicu Lonjakan Anak Tidak Sekolah di Pasangkayu |
|
|---|