Jumat, 22 Mei 2026

Literasi

Ujung dari Agama

Dalam logika kehidupan, ada awal kehidupan dan ada akhir kehidupan, seperti itulah hukum siklus kehidupan

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Ujung dari Agama
dok Ilham Sopu
Ilham Sopu, salah satu cendikiawan Muslim asal Kabupaten Polman, Sulawesi Barat, sehari-hari sebagai pengajar di salah satu pondok pesantren di Pambusuang. 

Oleh : Ilham Sopu 

Apa ada ujung dari beragama, setidaknya itulah yang menjadi perbincangan dari judul di atas. Dalam logika kehidupan, ada awal kehidupan dan ada akhir kehidupan, seperti itulah hukum siklus kehidupan.

Agama itu turun dari Tuhan, dan ditujukan untuk kepentingan kemanusiaan. Agama dan manusia kedua berasal dari Tuhan, manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.

Manusia diturunkan ke bumi, disertai dengan fasilitas yang menyertainya yaitu agama. Itu berbeda dengan makhluk lain, seperti binatang hanya sekedar dilepaskan, dan binatang hanya mengandalkan instingnya tanpa ada petunjuk mendampinginya. 

Manusia sangat diuntungkan, karena ada potensi yang diberikan oleh Tuhan, berupa nurani yang ada pada setiap manusia, dan agama yang diturunkan oleh Tuhan untuk mendampingi nurani tersebut.

Dua potensi ini, yakni potensi dari dalam dan potensi dari luar, dan kedua potensi ini berasal dari Tuhan. Kedua potensi ini dalam bahasa keagamaan disebut dengan fitrah majbulah dan fitrah munazzalah.

Manusia yang memfungsikan kedua fasilitas ini, akan merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap tindakannya, itulah yang dimaksud dengan bahasa al Qur'an "kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Tuhan". 

Kita akan merasakan sentuhan-sentuhan spritualitas dan selalu terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan karena ada dorongan-dorongan dari dalam dan begitupun sentuhan-sentuhan Tuhan lewat ajaran agama yang mereka pelajari.

Manusia yang tidak mampu merasakan sentuhan-sentuhan wajah Tuhan, atau kekuasaan Tuhan, adalah manusia yang tuna secara spritual. Manusia yang gagal membaca fasilitas Tuhan yang disiapkan untuknya.

Betapa Tuhan telah memberikan isyarat-isyarat atau jejak-jejak kepada manusia namun manusia gagal dalam memaknai isyarat-isyarat Tuhan tersebut, mungkin karena manusia terlalu larut dalam perbuatan-perbuatan amoral sehingga tertutupi bilik-bilik atau jalan menuju Tuhan.

Jalan menuju Tuhan itu berliku-liku, kadang menanjak dan kadang menurun, tapi bagi yang Istiqomah menuju atau meniti jalan ketuhanan itu akan dapat merasakan isyarat-isyarat ketuhanan.

Syaikh Yusuf al Makassary, menyampaikan suatu teks yang merupakan berasal dari Nabi bahwa "Bahwa inti dari agama adalah ma'rifatullah, inti dari ma'rifatullah adalah akhlak, inti dari akhlak adalah silaturrahim, dan inti dari silaturrahim adalah menyampaikan rasa bahagia ke hati seorang mukmin".

Dengan memperhatikan teks ini, bahwa agama dimulai dari tauhid dan diakhiri dengan kepekaan sosial terhadap sesama. Ibarat tauhid itu akar tunggang dari sebuah pohon dan akhlak terhadap sesama manusia bagaikan daun-daun yang rindang yang menambah keindahan sebuah pohon.

Empat inti agama yang disebut dalam hadis diatas, itu saling terkait, dan itu menjadi prasyarat yang menjadikan seseorang punya nilai keagamaan yang baik.

Dari Tauhid yang kuat itu akan melahirkan akhlak yang mulia, dan kebaikan akhlak seseorang akan melahirkan manusia-manusia yang punya nilai silaturrahim yang baik, dan banyak bersilaturahmi itu akan menciptakan manusia-manusia yang punya kepekaan sosial yang baik. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved