Breaking News

Literasi

Ujung dari Agama

Dalam logika kehidupan, ada awal kehidupan dan ada akhir kehidupan, seperti itulah hukum siklus kehidupan

Editor: Nurhadi Hasbi
dok Ilham Sopu
Ilham Sopu, salah satu cendikiawan Muslim asal Kabupaten Polman, Sulawesi Barat, sehari-hari sebagai pengajar di salah satu pondok pesantren di Pambusuang. 

Dalam era modern sekarang ini,  dimana manusia-manusia banyak yang mengalami krisis moral, panduan moral sudah hilang dari manusia-manusia modern, mereka kehilangan arah, kehilangan kompas spritual, mereka berjalan tanpa arah yang jelas.

Mereka kehilangan jati dirinya, tempat berpijak mereka keropos sehingga mudah terjatuh dalam bangkai peradaban yang gelap. Seperti itulah kebanyakan yang dialami masyarakat modern sekarang ini.

Untuk menyembuhkan kembali peradaban yang pernah  diperjuangkan oleh Nabi selama 23 tahun di masa kenabiannya, manusia punya potensi untuk mengembalikan peradaban yang telah hilang tersebut.

Belajar dari perjuangan Nabi dalam membangun suatu masyarakat yang egaliter yang dimulai dari  pengembangan potensi diri. Manusia memiliki potensi spritual, dan dengan potensi tersebut, dengan akar potensi spritual akan melahirkan peradaban sosial yang anggung sebagaimana yang diciptakan oleh Nabi  lewat peradaban Madinah atau akrab disebut masyarakat madani.

Nabi telah memberikan arah yang jelas  dalam membentuk model-model keberagamaan yang dapat membuat manusia, kuat secara spritual tetapi juga kuat secara sosial kemasyarakatan.

Itulah contoh keberagamaan yang diajarkan oleh Nabi, yang dimulai dari penguatan tauhid, yang melahirkan suatu akhlak atau moral yang baik, dan akhlak akan melahirkan suatu persambungan hubungan sosial dalam bentuk silaturrahim, dan pada akhirnya akan mendistribusikan kelembutan-kelembutan kasih sayang yang ditebarkan kepada sesama manusia.

Hadis yang dikutip diatas, bahwa agama itu dimulai dari ma'rifatullah, dan diakhiri memasukkan rasa bahagia dalam hati sesama saudara itu tergambarkan dalam kegiatan ibadah shalat, bahwa shalat itu dimulai dari takbir sebagai simbol ma'rifatullah dan diakhiri dengan salam, itu sebagai simbol dari "idkhalussurur fi qulubil Ikhwa", memasukkan rasa bahagia ke dalam hati setiap saudara.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved