Opini
Keluarga sebagai Ruang Pewarisan Emosi
Cara seseorang mencintai, marah, menghadapi konflik, merespons kecemasan, bahkan memandang dirinya sendiri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Nur-Salim-Ismail-dok.jpg)
Niatnya mungkin baik, tetapi dampaknya tidak selalu demikian. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kecemasan sering mengalami kesulitan mengembangkan kemandirian psikologis. Ia terbiasa hidup dalam ketakutan, ragu mengambil keputusan, dan mudah merasa tidak aman ketika menghadapi tantangan kehidupan. Pada akhirnya, kecemasan yang diwariskan itu berpotensi melahirkan generasi yang rapuh secara emosional.
Pada sisi lain, ketegangan keluarga juga dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus. Keluhan fisik yang berulang seperti migrain, gangguan tidur, kelelahan kronis, atau berbagai keluhan psikosomatis terkadang tidak dapat dipisahkan dari kondisi emosional yang sedang dialami seseorang. Tubuh sering kali berbicara ketika jiwa tidak menemukan ruang untuk mengungkapkan kegelisahannya.
Karena itu, memahami keluarga tidak cukup hanya dengan melihat perilaku individu. Kita perlu melihat hubungan-hubungan yang membentuk perilaku tersebut. Sebab sering kali yang tampak sebagai masalah individu sesungguhnya adalah gejala dari sistem yang sedang mengalami ketegangan.
Dalam perspektif Islam, pemahaman ini memberikan cara pandang yang lebih mendalam terhadap konsep keluarga sakinah. Selama ini sakinah sering dipahami sebagai keadaan rumah tangga yang tenang, damai, dan bebas konflik. Akibatnya, ketika pertengkaran muncul, sebagian pasangan merasa bahwa rumah tangganya telah gagal menjadi keluarga sakinah.
Padahal kehidupan rumah tangga tidak pernah steril dari perbedaan dan konflik. Dua manusia yang dibesarkan dalam lingkungan berbeda, memiliki pengalaman berbeda, serta membawa luka dan harapan yang berbeda, tentu akan mengalami benturan dalam perjalanan hidupnya.
Karena itu, sakinah tidak semata-mata berarti hidup tanpa konflik. Sakinah adalah kemampuan menjaga ketenangan ketika konflik datang. Sakinah adalah kemampuan berpikir jernih ketika emosi sedang meninggi. Sakinah adalah keberanian untuk tidak menjadikan kecemasan sebagai warisan bagi generasi berikutnya.
Dalam pengertian ini, keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama, melainkan tempat berlangsungnya pembelajaran emosional yang paling mendasar. Anak-anak belajar tentang cinta dari cara orang tuanya saling mencintai. Mereka belajar tentang kemarahan dari cara orang tuanya bertengkar. Mereka belajar tentang ketenangan dari cara orang tuanya menghadapi kesulitan.
Apa yang diwariskan keluarga bukan hanya nama dan nasab, tetapi juga cara merasakan kehidupan.
Mungkin karena itu, tugas terbesar orang tua bukan hanya menyediakan kebutuhan materi bagi anak-anaknya. Tugas yang tidak kalah penting adalah menghadirkan lingkungan emosional yang sehat. Sebab di sanalah generasi masa depan dibentuk.
Pada akhirnya, setiap keluarga akan mewariskan sesuatu kepada anak-anaknya. Pertanyaannya bukan apakah kita akan mewariskan sesuatu atau tidak, melainkan apakah yang kita wariskan itu ketenangan atau kecemasan.(*)
| Pelayanan Publik yang Ramah Anak: Perspektif Pencegahan Stunting |
|
|---|
| Fenomena "Home Bias" dalam Pergerakan Nilai Tukar |
|
|---|
| Hilirisasi Logam Tanah Jarang Ancaman Nyata Ketidakadilan sosial Ekologis Mamuju |
|
|---|
| Harga Pertamax Naik Akan Tekan Pasokan Pertalite IMM Sulbar: Pemerintah Hanya Tambah Beban Rakyat |
|
|---|
| Cara “Menguatkan Rumah” Fiskal di Tengah Dunia yang Berubah Cepat |
|
|---|