Kamis, 18 Juni 2026

Opini

Keluarga sebagai Ruang Pewarisan Emosi

Cara seseorang mencintai, marah, menghadapi konflik, merespons kecemasan, bahkan memandang dirinya sendiri

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Keluarga sebagai Ruang Pewarisan Emosi
Nur Salim Ismail
Nur Salim Ismail 

Oleh : Nur Salim Ismail 

TRIBUN-SULBAR.COM- Ketika mendengar kata “warisan”, kebanyakan orang segera membayangkan rumah, tanah, tabungan, atau harta benda yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya. Padahal, ada warisan lain yang sering luput dari perhatian, meskipun pengaruhnya jauh lebih panjang daripada harta benda. Warisan itu adalah emosi.

Cara seseorang mencintai, marah, menghadapi konflik, merespons kecemasan, bahkan memandang dirinya sendiri, tidak lahir begitu saja. Sebagian besar dibentuk oleh lingkungan keluarga, tempat ia bertumbuh. Karena itu, keluarga sesungguhnya bukan hanya ruang pewarisan nilai dan budaya, tetapi juga ruang pewarisan emosi.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai keluarga yang tampak baik-baik saja dari luar, tetapi menyimpan ketegangan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ada pasangan yang hidup serumah tetapi terasa berjauhan. Ada pula pasangan yang begitu melekat satu sama lain hingga kehilangan batas-batas pribadi. Dalam kedua situasi tersebut, ketenangan keluarga sesungguhnya sedang diuji.

Dalam Jurnal The Family Systems Institute, Jenny Brown menulis tentang Teori Sistem Keluarga yang dikembangkan oleh Murray Bowen. Ia menjelaskan bahwa sumber utama kecemasan dalam keluarga sering muncul dari dua keadaan yang tampaknya bertolak belakang: hubungan yang terlalu dekat atau justru terlalu jauh.

Kedekatan yang berlebihan membuat seseorang sulit membedakan perasaan dirinya dengan perasaan pasangannya. Sebaliknya, jarak emosional yang terlalu lebar menciptakan keterasingan dan kesepian di tengah kebersamaan. (Brown, 1999)

Ketika keluarga tidak mampu mengelola situasi tersebut dengan baik, lahirlah apa yang disebut Bowen sebagai chronic anxiety atau kecemasan kronis. Berbeda dengan kecemasan sesaat yang muncul karena peristiwa tertentu, kecemasan kronis bekerja secara perlahan dan terus-menerus. Ia memengaruhi cara berpikir, cara berkomunikasi, dan cara mengambil keputusan dalam keluarga.

Menariknya, kecemasan itu tidak hanya berasal dari tekanan hidup yang sedang dihadapi. Sebagiannya merupakan warisan emosional dari generasi sebelumnya. Pengalaman masa kecil, pola pengasuhan, konflik keluarga yang tidak selesai, hingga ketakutan-ketakutan yang tidak pernah diungkapkan dapat diwariskan secara tidak sadar kepada anak-anak.

Pada posisi inilah keluarga menjadi ruang pewarisan emosi. Bowen menyebut salah satu pola yang sering muncul sebagai fusi emosional. Dalam kondisi ini, seseorang terlalu bergantung secara emosional kepada pasangannya. Kebahagiaan dirinya ditentukan sepenuhnya oleh kebahagiaan orang lain. Ketika pasangan sedih, ia ikut runtuh. Ketika pasangan marah, ia kehilangan ketenangan.

Hubungan seperti ini sering dipersepsikan sebagai bentuk cinta yang mendalam, padahal di dalamnya terdapat ketergantungan emosional yang berlebihan.

Sebaliknya, keluarga yang sehat ditandai oleh kemampuan melakukan diferensiasi diri. Artinya, seseorang tetap mampu mencintai pasangannya tanpa kehilangan identitasnya sendiri. Ia mampu berkata, “Saya mencintaimu, tetapi saya tetap memiliki pikiran, keyakinan, dan pilihan saya sendiri.” Dalam hubungan seperti ini, kedekatan tidak menghapus kebebasan, dan perbedaan tidak dianggap sebagai ancaman.

Konsep lain yang menarik dari Bowen adalah triangle atau segitiga relasi. Menurutnya, ketika ketegangan meningkat antara dua orang, mereka cenderung melibatkan pihak ketiga untuk meredakan kecemasan. Dalam keluarga, pihak ketiga itu bisa berupa anak, orang tua, mertua, pekerjaan, bahkan aktivitas sosial.

Fenomena ini sangat sering terjadi tanpa disadari. Seorang ibu datang mengeluhkan perilaku anaknya yang dianggap nakal, sulit diatur, atau mengalami penurunan prestasi. Namun setelah dilakukan penelusuran yang lebih mendalam, ditemukan bahwa hubungan suami-istri sedang mengalami kebekuan komunikasi. Ada jarak emosional yang tidak pernah dibicarakan dan kekecewaan yang dipendam terlalu lama. Dalam situasi seperti itu, anak sering kali menjadi tempat berlabuhnya kecemasan yang tidak terselesaikan.

Anak kemudian diposisikan sebagai sumber masalah, padahal sesungguhnya ia hanya sedang memantulkan ketegangan yang ada dalam sistem keluarga. Ia menjadi korban dari konflik yang tidak pernah benar-benar diselesaikan oleh orang tuanya.

Kecemasan yang berlangsung terus-menerus kemudian melahirkan apa yang disebut Bowen sebagai proses proyeksi keluarga. Orang tua yang cemas akan cenderung memproyeksikan kecemasannya kepada anak. Mereka menjadi terlalu melindungi, terlalu mengontrol, dan terlalu khawatir terhadap berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
1 - 1
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
4 - 2
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
1 - 0
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
VS
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Berita Populer

Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved