Opini
Lampu Sorot ke Gerindra: Antara Program Nasional dan Antrian Politisi Lokal
Di musim ini, satu nama disebut lebih sering dari doa pembuka rapat. Partai Gerakan Indonesia Raya, atau yang lebih akrab di lidah rakyat, Gerindra.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Iksan-Hidayah-Dewan-Etik-Ikatan-Jurnalis-Sulbar.jpg)
Oleh: Iksan Hidayah
(Dewan Etik Ikatan Jurnalis Sulawesi Barat)
Di panggung politik Indonesia, ada musim-musim tertentu yang datang tanpa perlu ramalan cuaca. Ada musim baliho, musim safari kebangsaan, dan kini musim primadona.
Di musim ini, satu nama disebut lebih sering dari doa pembuka rapat. Partai Gerakan Indonesia Raya, atau yang lebih akrab di lidah rakyat, Gerindra.
Sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) berdenyut di nadi kampung-kampung, politik tak lagi sekadar soal kursi dan koalisi.
Ia berubah menjadi pesta resepsi panjang, di mana Gerindra duduk di pelaminan, dan para tokoh politik berbaris rapi seperti tamu yang ingin foto bersama pengantin—tentunya dengan sudut terbaik.
Baca juga: Drama Jual Beli Titik MBG di Sulawesi Barat
Angin primadona itu terasa hingga ke barat Pulau Sulawesi. Di Sulawesi Barat, Gerindra sedang tumbuh dengan percaya diri, seperti pohon yang akarnya mulai mencengkeram tanah politik lokal.
Kantor-kantor partai yang dulu sekadar persinggahan kini menjadi ruang temu, ruang lobi, ruang negosiasi—bahkan ruang harapan baru.
Menjelang kontestasi, baik pemilihan gubernur, bupati, maupun legislatif, nama Gerindra kerap disebut dalam percakapan serius maupun setengah berbisik.
Ia menjadi semacam simpul strategis, bukan hanya soal tiket politik, tetapi juga soal akses, jaringan, dan kedekatan dengan kebijakan nasional yang sedang bergulir.
Menariknya, meski gubernur Sulawesi Barat bukan berasal dari Gerindra, denyut kebijakan nasional kerap disebut-sebut “bermuara” atau setidaknya “melewati beranda” para pengurus Gerindra.
Dalam bahasa warung kopi, anggaran pusat terasa lebih mudah dibicarakan jika pintu yang diketuk berwarna loreng merah-putih khas partai ini.
Di sinilah sastra politik menjadi jenaka. Para politisi lokal yang dulu mungkin menjaga jarak, kini rajin bersilaturahmi.
Pemuda-pemuda yang ingin naik panggung merasa lebih pede mendekat, membawa proposal, membawa ide, bahkan membawa mimpi.
Mereka percaya bahwa di ruang-ruang Gerindra, peluang bisa diracik seperti kopi hangat, pahitnya strategi, manisnya jaringan.
Di tingkat kabupaten, provinsi, hingga jalur khusus ke salah satu pengurus DPP Gerindra asal Sulawesi Barat di pusat, benang komunikasi terjalin rapat.
| Menanti Pembuktian "Assa" untuk Petani Polman |
|
|---|
| Kado Ulang Tahun Duta Sheila On 7: Single Baru atau Keteladanan yang Tak Pernah Usang? |
|
|---|
| Mamasa: Karnaval di Atas Tangisan Epilepsi |
|
|---|
| Menimbang Energi Nuklir: Perspektif Hukum Tata Negara dalam Penguatan Kebijakan Energi Nasional |
|
|---|
| Man Behind the Gun Trump: The Domino Effect Reaching Indonesia |
|
|---|