Kamis, 21 Mei 2026

Hari HIV AIDS Sedunia

Menghapus Stigma, Menguatkan Harapan: Refleksi Hari HIV/AIDS Sedunia

Stigma ini ditandai dengan penghinaan, isolasi sosial, dan ketidakpedulian terhadap penderita, yang berdampak pada kesehatan mental mereka. ‎

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Menghapus Stigma, Menguatkan Harapan: Refleksi Hari HIV/AIDS Sedunia
Tribunnews.com/ILUSTRASI
HIV/AIDS - Ilustrasi peringatan Hari HIV-AIDS Se-dunia 

Oleh: Irna Megawaty, S.Kep, Ns, M.Kep.
(Dosen Keperawatan Fikes Unsulbar)

‎Satu Desember, merupakan momentum penting bagi seluruh masyarakat untuk kembali meningkatkan kesadaran, kepedulian, dan komitmen dalam upaya pencegahan serta penanggulangan HIV/AIDS.

‎Peringatan ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sebuah panggilan untuk memperkuat solidaritas dan memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam akses terhadap informasi, layanan kesehatan, dan dukungan sosial.

‎HIV/AIDS hingga saat ini masih menjadi isu kesehatan global yang memerlukan pendekatan komprehensif, bukan hanya dari sisi medis, tetapi juga dari perspektif sosial dan edukatif. 

Baca juga: Kasus Meningkat, Balita Positif HIV/AIDS di Majene Tertular dari Ibu

‎‎Di tengah kemajuan terapi antiretroviral (ARV) yang memungkinkan Orang dengan HIV (ODHIV) hidup sehat, produktif, dan berumur panjang, tantangan terbesar justru masih berasal dari stigma dan diskriminasi.

‎Stigma terkait HIV/AIDS adalah persepsi negatif dan diskriminatif terhadap individu yang terinfeksi virus HIV, yang dapat memicu ketakutan dan pengabaian.

Stigma ini ditandai dengan penghinaan, isolasi sosial, dan ketidakpedulian terhadap penderita, yang berdampak pada kesehatan mental mereka.

‎Dampak ini terlihat pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, dan perasaan terasing hingga kondisi fisik, ketika penderita enggan mencari perawatan medis karena takut dihakimi. 

‎Selain itu, isolasi sosial menjadi konsekuensi nyata yang memutus hubungan penderita dengan lingkungan, teman, bahkan keluarga, sehingga melemahkan dukungan emosional yang sangat mereka butuhkan.

‎Namun, di balik tantangan tersebut, terdapat peluang besar untuk menghadirkan perubahan positif melalui edukasi dan empati.

Masyarakat perlu memahami bahwa HIV tidak menular melalui aktivitas sosial sehari-hari, seperti bersalaman, berbagi makanan, atau berada di ruangan yang sama.

‎Penularan hanya terjadi melalui jalur tertentu: hubungan seksual tidak aman, penggunaan jarum suntik bersama, transfusi darah yang tidak terjamin, atau penularan dari ibu ke bayi.

Pemahaman yang benar akan mekanisme penularan ini dapat mengikis ketakutan yang tidak berdasar serta membuka ruang bagi sikap yang lebih manusiawi.

‎Penanganan HIV/AIDS tidak hanya berfokus pada penyediaan obat ARV, tetapi juga pada upaya menciptakan lingkungan yang tanpa diskriminasi.

Pendekatan Zero Discrimination harus menjadi bagian integral dari strategi pencegahan dan penanggulangan HIV.

Ketika masyarakat menerima ODHIV tanpa prasangka, mereka akan lebih terbuka untuk melakukan pemeriksaan, menerima pengobatan, dan menjalani kehidupan dengan kualitas yang lebih baik.

‎Hari HIV/AIDS Sedunia mengingatkan kita bahwa perjuangan ini bukan hanya soal menurunkan angka kasus, tetapi juga membangun jembatan kemanusiaan.

Ketika kita memberikan ruang aman, dukungan, dan informasi yang benar, kita sedang membantu seseorang mempertahankan harapan dan kualitas hidupnya.

‎Mari bersama-sama menciptakan masyarakat yang lebih peduli, tanpa diskriminaso, dan berdaya, di mana setiap individu, termasuk ODHIV, dapat hidup dengan martabat, tanpa ketakutan, dan tanpa stigma.

‎Bersama, kita bisa mengakhiri stigma. Bersama, kita bisa mengakhiri AIDS.(*)

Sumber: Tribun sulbar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved