Opini
Ferdi dan Getar Sosial Mandar
Masyarakat menunggu kepulangannya seperti menanti pahlawan pulang dari pertempuran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Hamzah-Durisa-Penggerak-GUSDURian-Senior-Majene.jpg)
Oleh: Hamzah Durisa
(Pegiat Literasi/Aktivis GUSDURian)
FERDI. Nama itu tiba-tiba memenuhi ruang obrolan di media sosial, di pasar, di sekolah-sekolah, bahkan mungkin di kantor-kantor. Ia bukan pejabat.
Bukan juga tokoh politik. Tapi ia membawa sesuatu yang tak kalah besar: kebanggaan daerah.
Ferdi adalah peserta Dangdut Academy 7 di Indosiar.
Ia mewakili Polewali Mandar, daerah kecil di pesisir Barat Sulawesi.
Dengan suara khas dan logat Mandarnya yang lembut, ia menembus sepuluh besar.
Sebuah pencapaian yang bagi warga, terasa seperti kemenangan bersama.
Ketika Ferdi akhirnya“tersenggol” dari ajang itu, tidak ada rasa kecewa berlebihan. Tersisih secara terhormat. Yang muncul justru euforia.
Masyarakat menunggu kepulangannya seperti menanti pahlawan pulang dari pertempuran.
Jalanan di Polewali berubah ramai. Sepanjang jalur protokol dari pusat kota hingga desa Lampoko, spanduk dan baliho bertuliskan “Selamat Datang Ferdi DA7, Solana Ferdi” menjadi hal yang familiar.
Musik lokal menggema. Anak-anak berlari membawa bendera kecildengan gambar Ferdi. Ibu-ibu berdandan rapi. Para remaja sibuk merekam suasana dengan ponsel.
Semuanya seperti tersusun dalam satu irama sosial yang tidak direncanakan, tapi penuh makna.
Sebuah Ritual Baru
Dari sisi antropologi, peristiwa ini dapat dibaca sebagai ritual penghormatan terhadap figur karismatik.
Dulu, masyarakat Mandar menyambut tokoh-tokoh besar — seperti pejuang atau pemimpin adat — dengan upacara, iringan musik dan bernuansa tradisional, dan doa bersama.
Kini, bentuknya berubah. Yang disambut bukan lagi pemimpin perang, melainkan bintang dangdut.
Namun maknanya sama: penghormatan kepada sosok yang membawa kebanggaan.
Seseorang yang dianggap berhasil menembus batas — keluar dari kampung kecil, tampil di layar nasional, dan tetap menyebut asalnya dengan bangga.
Ferdi menjadi simbol identitas lokal yang hidup.
Ketika ia berdiri di panggung dan host berkata “ Ferdi Polewali Mandar”, seluruh warga merasa ikut tampil bersamanya.
Maka, penyambutan besar-besaran itu bukan sekadar hiburan. Ia adalah manifestasi rasa terhubung antara individu dan komunitasnya.
Dalam istilah antropologi, ini bentuk komunitas imajiner — masyarakat merasa satu tubuh, satu kebanggaan, satu cerita.
Tradisi yang Bertransformasi
Kita sering menganggap hal seperti ini sekadar fanatisme. Padahal lebih dari itu.
Antropologi melihatnya sebagai transformasi budaya lokal dalam konteks modernitas.
Masyarakat Polewali Mandar dan Sulawesi Barat pada umumnya, masih mempertahankan pola lama: menyambut, menyanjung, dan merayakan.
Namun alatnya berubah — bukan lagi rabana atau kacaping Mandar, melainkan sound system dan kamera ponsel.
Bukan lagi lapangan adat, tapi jalan raya dan media sosial. Nilai yang dijaga tetap sama: rasa kita.
Kita yang satu kampung. Kita yang satu bahasa. Kita yang ikut bangga karena ada orang dari daerah kita tampil di layar TV nasional.
Dalam budaya lokal, kebanggaan semacam ini adalah bentuk maradeka — rasa kemerdekaan dari batas daerah, tapi tetap membawa identitas Mandar ke mana pun pergi.
Ferdi mungkin tidak sadar, tetapi kehadirannya menyalakan kembali semangat kolektif yang lama.
Semangat bahwa orang Mandar juga bisa dikenal, bisa tampil, bisa bersaing.
Makna Sosial di Balik Euforia
Kepulangan Ferdi membuat Polewali macet. Tapi tidak ada yang marah. Justru orang berbondong-bondong turun ke jalan.
Pedagang menghentikan jualannya. Yang bertani tidak berangkat ke ladangnya. Mereka hanya ingin melihat, meski sekilas, sosok yang mereka anggap “wakil mereka”.
Ini bukan tentang dangdut semata. Ini tentang rasa keterhubungan sosial.
Ketika masyarakat melihat Ferdi, mereka melihat diri mereka sendiri — perjuangan dari daerah kecil yang sering terlupakan, tapi penuh bakat.
Antropologi menyebut fenomena seperti ini sebagai bentuk emosi kolektif.
Sebuah momen ketika batas antara individu dan masyarakat larut. Yang tersisa hanyalah rasa: bangga, haru, gembira, dan cinta pada kampung sendiri, bahkan mata yang berkaca-kaca menjadi hal yang biasa. Ada dorongan dari dalam diri yang tidak bisa dibahasakan.
Peristiwa ini juga memperlihatkan bagaimana budaya lokal tidak hilang, melainkan bertransformasi mengikuti zaman.
Arak-arakan penyambutan Ferdi adalah versi modern — tradisi penyambutan orang penting dalam adat Mandar.
Bedanya, sekarang yang diarak bukan sekelas raja, melainkan figur hiburan. Namun esensinya sama: penghormatan, doa, dan kebanggaan.
Masyarakat tetap menggunakan simbol lokal — seperti pakaian adat saat pengalungan bunga dengan bahan dasar dari saqbe, alat musik tradisional, bahkan bahasa Mandar dalam yel-yel penyambutan. Ini menunjukkan bahwa modernitas tidak memutus akar.
Ia justru memberi panggung baru bagi budaya lama untuk tetap hidup dalam bentuk yang lebih dinamis.
Kebanggaan yang Mengikat
Fenomena Ferdi DA7 bukan hanya kisah seorang penyanyi. Ia adalah kisah masyarakat yang menemukan cermin kebanggaan baru.
Dalam dunia yang makin global, warga Polewali Mandar menemukan alasan untuk menatap layar televisi bersama, bersorak bersama, dan menyebut satu nama dengan penuh cinta.
Kebanggaan ini menjadi energi sosial. Anak-anak kecil mulai bermimpi: suatu hari nanti, mereka juga bisa tampil di panggung besar sambil berkata, “Saya dari Polewali Mandar.”
Di sinilah makna antropologinya paling dalam: identitas lokal yang terus diperbarui melalui simbol-simbol baru. Dulu lewat perang dan adat. Kini lewat panggung dan musik.
Namun, kebanggaan daerah bukan hanya lahir dari suara yang merdu. Ferdi telah menjadi simbol karena suaranya mampu menembus layar televisi nasional, tetapi cara membanggakan kampung halaman masih banyak pilihan bagi generasi muda yang lain.
Ada yang menyalurkan semangatnya lewat kaki yang lincah di lapangan bola.
Ketika mereka bermain untuk tim lokal, mencetak gol di turnamen antarprovinsi, atau bahkan menembus tim nasional, kebanggaan itu terasa sama. Di warung kopi, nama mereka dibicarakan dengan nada kagum.
Di sekolah, adik-adik mereka mulai menendang bola dengan lebih serius. Karena setiap prestasi di lapangan adalah bentuk lain dari cinta pada daerah — cinta yang diucapkan lewat keringat, bukan kata-kata.
Ada pula yang membanggakan daerah lewat tangan-tangan terampilnya.
Mereka yang memukul bola voli dengan keras, mengayun raket bulu tangkis dengan presisi, atau bahkan menorehkan prestasi dalam lomba seni dan kerajinan.
Setiap gerakan, setiap kemenangan kecil, adalah cara lain mengumandangkan nama kampung di pentas yang lebih luas.
Dan tentu saja, ada pula yang membanggakan Mandar lewat akal dan pikirannya.
Mereka yang juara olimpiade sains, menulis karya ilmiah, atau menjadi mahasiswa berprestasi.
Mereka tidak tampil di layar kaca, tapi di balik meja belajar mereka sedang menyiapkan masa depan Polewali Mandar dengan ilmu dan kecerdasan.
Ada juga yang menggetarkan hati orang lewat suara lantunan ayat suci. Para hafidz dan qori(ah) muda Mandar, yang membawa nama daerahnya dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an, menorehkan prestasi bukan dengan tepuk tangan, tapi dengan air mata haru dan doa.
Suara mereka mengingatkan bahwa kebanggaan sejati tidak selalu tentang popularitas, tapi tentang pengabdian dan keikhlasan. Jadi, Ferdi hanyalah satu bagian dari mozaik besar kebanggaan Mandar.
Jadi, harapannya kelak lahir ‘Ferdi-Ferdi’ yang lain dengan bakat yang lain pula.
Di setiap jalan kampung, di setiap ruang kelas, di setiap lapangan, ada anak-anak muda yang sedang berjuang dengan caranya sendiri.
Mereka semua — dengan kaki, tangan, suara, dan pikirannya — sedang menulis bab baru dari kisah Mandar yang tak pernah selesai: kisah tentang kerja keras, harga diri, dan cinta pada tanah kelahiran untuk menjadi kebanggan daearah yang tercinta, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.