Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Perokok Pemula dan Dilema Budaya

Hasil SKI 2023 juga menunjukkan bahwa 36,1 persen penduduk usia 10-24 tahun aktif merokok dengan rata-rata 8-12 batang per hari. 

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Perokok Pemula dan Dilema Budaya
Ist/Tribun-Sulbar.com
Dwi Ardian, Statistisi di BPS Provinsi Sulawesi Barat 

Dwi Ardian
Statistisi BPS Provinsi Sulawesi Barat


TRIBUN-SULBAR.COM - Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 mengungkapkan tantangan besar Indonesia dalam pengendalian tembakau, ada dilema budaya yang sulit dipisahkan. 

Prevalensi merokok pada penduduk dewasa mencapai 33,5 persen, sementara Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan peningkatan signifikan perokok remaja usia 10-18 tahun dari 7,2 persen menjadi 9,1 persen, bahkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan peningkatan menjadi 11,6 persen. 

Hasil SKI 2023 juga menunjukkan bahwa 36,1 persen penduduk usia 10-24 tahun aktif merokok dengan rata-rata 8-12 batang per hari. 

Di balik angka-angka statistik ini, tersembunyi realitas sosiokultural yang kompleks, di mana lembaga keagamaan seperti pesantren tradisional tertentu yang turut berkontribusi terhadap tingginya angka inisiasi merokok dini.

Pesantren, sebagai pusat pendidikan karakter, ternyata menyimpan kontradiksi dalam praktiknya. 

Di banyak pesantren tradisional tertentu, rokok sering kali menjadi "pengantar" dalam interaksi sosial antara santri dan kiai, serta menjadi bagian tak terpisahkan dari diskusi kitab kuning. Seorang kiai yang merokok dianggap wajar, dan pemberian rokok dari santri kepada kiai bisa dimaknai sebagai bentuk penghormatan (ta'dzim).

Dalam banyak komunitas tradisional Indonesia, rokok telah terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan sosial. 

Studi Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (2022) mengungkap bahwa dalam berbagai aktivitas komunal, rokok seringkali berperan sebagai "pemulus" interaksi sosial. Fenomena ini menciptakan lingkungan di mana merokok dipandang sebagai praktik yang wajar dan diterima secara kultural.

Menurut perspektif sosiologi, praktik-praktik semacam ini membentuk apa yang disebut sebagai "habitus", yakni kerangka perilaku yang terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai sosial yang berulang. Lingkungan yang menganggap merokok sebagai bagian dari tradisi secara tidak langsung menciptakan persepsi bahwa merokok merupakan tindakan normal dan bagian dari identitas kolektif.

Berbagai acara komunal dalam masyarakat Indonesia, seperti kenduri, arisan, atau pertemuan adat, sering kali menempatkan rokok sebagai salah satu elemen penting dalam tata kelola jamuan. 

Rokok yang diedarkan dalam nampan bukan sekadar barang konsumsi, melainkan simbol penghormatan dan perekat hubungan sosial.

Teori Pertukaran Sosial membantu memahami dinamika ini. 

Dalam acara komunal, terjadi pertukaran simbolis di mana tuan rumah menawarkan rokok sebagai bentuk penghormatan, sementara tamu menerimanya sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan. 

Bagi remaja yang baru pertama kali terlibat dalam tradisi semacam ini, tekanan sosial untuk berpartisipasi dalam "ritual" ini sangat besar, menciptakan momen inisiasi yang krusial.

Kementerian Kesehatan mencatat bahwa konsumsi rokok berkontribusi signifikan terhadap beban penyakit tidak menular di Indonesia. 

Prevalensi penyakit yang terkait dengan kebiasaan merokok terus menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan. 

Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menunjukkan bahwa pembiayaan kesehatan untuk penyakit terkait rokok mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya.

Dampak ekonomi pada keluarga Indonesia tidak kalah memprihatinkan. Badan Pusat Statistik (2025) mencatat bahwa rumah tangga menghabiskan proporsi anggaran yang signifikan untuk konsumsi rokok. 

Ironisnya, pengeluaran untuk rokok justru lebih tinggi di kalangan keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, proporsi pengeluaran rokok kretek filter pada garis kemiskinan mencapai 10,72 persen di perkotaan dan 9,99 persen di perdesaan. 

Hal ini menciptakan beban ganda baik dari segi kesehatan maupun ekonomi.

Menghadapi kompleksitas tantangan ini, pendekatan yang peka terhadap budaya lokal terbukti lebih efektif. 

Ada beberapa langkah strategis utama yang dapat dikembangkan. Pertama, melakukan reintepretasi terhadap makna keramahan dalam tradisi. 

Gagasan untuk mentransformasi sajian dalam acara komunal dengan alternatif yang lebih sehat perlu dikemas sebagai bentuk evolusi budaya, bukan penolakan terhadap tradisi.

Kedua, mengintegrasikan nilai-nilai lokal tentang menjaga kesehatan dalam pendidikan sejak dini. 

Konsep-konsep kearifan lokal tentang pentingnya menjaga tubuh sebagai anugerah dapat menjadi landasan etis yang kuat dalam membangun kesadaran kesehatan.

Ketiga, memperkuat implementasi kawasan tanpa rokok di berbagai lingkungan strategis. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa penerapan konsisten kawasan tanpa rokok dapat menurunkan prevalensi perokok pemula secara signifikan.

Peran Tokoh Masyarakat dan Pemuda

Tokoh masyarakat dan pemuda memegang peran kunci dalam memimpin transformasi budaya ini. 

Keteladanan dalam menghindari merokok dan promosi gaya hidup sehat dapat menjadi inspirasi bagi komunitas. 

Program-program kesehatan yang melibatkan tokoh masyarakat setempat terbukti lebih efektif dalam mengubah persepsi dan perilaku.

Perubahan membutuhkan pendekatan komprehensif yang menghargai keragaman budaya sambil secara bertahap melakukan transformasi menuju praktik-praktik yang lebih sehat. 

Pendidikan kesehatan yang menyeluruh, didukung oleh keteladanan dan kebijakan yang konsisten, merupakan kunci menuju perubahan berkelanjutan.

Membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kesehatan sebagai investasi masa depan bangsa menjadi tanggung jawab bersama. 

Dengan pendekatan yang bijaksana, inklusif, dan menghargai kearifan lokal, transformasi menuju masyarakat sehat yang bebas dari ketergantungan rokok bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved