Di sisi lain, orang tua harus menjadi “sekutu anak”, bukan malah menjadi hakim yang menilai dari angka rapor. Rumah sebaiknya menjadi tempat aman di mana anak dapat beristirahat dari tekanan sekolah, bercerita tentang rasa lelahnya, dan menemukan kembali semangat belajar dalam suasana yang hangat. Keseimbangan antara belajar dan bermain juga
perlu dipulihkan.
Negara Finlandia, yang dikenal memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia, justru tidak memberikan pekerjaan rumah pada siswa sekolah dasar dan menjadikan permainan sebagai metode belajar utama. Anak - anak mereka tetap berprestasi, bahkan lebih
bahagia, karena belajar dengan cara yang selaras dengan usia mereka.
Kasus viral anak SD yang stres karena tugas sekolah berlebihan seharusnya menjadi alarm sosial bagi kita semua. Ia bukan sekadar kisah pilu individu, melainkan tanda bahwa sistem kita sedang melupakan hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Bila tawa anak-anak hilang dari ruang kelas, maka ada yang salah dalam cara kita mendidik.
Anak - anak tidak lahir untuk menjadi mesin pencetak nilai. Mereka lahir untuk tumbuh, bermain, dan belajar mengenal dunia dengan gembira. Ketika sistem pendidikan membuat mereka menangis, saatnya kita berhenti sejenak dan bertanya: siapa sebenarnya yang sedang kita didik anak-anak kita, atau ambisi kita sendiri?