Jumat, 24 April 2026

Opini

Nobel Ekonomi, Prabowonomics dan Kesenjangan Inovasi Kita

Teori ini didasarkan pada paradigma pertumbuhan Austrian Economist, Joseph Schumpeter. 

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Nobel Ekonomi, Prabowonomics dan Kesenjangan Inovasi Kita
Tribun Sulbar / Ist
Muhammad Syarkawi Rauf (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanuddin/ Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia, 2015 – 2018) 

Penulis: Muhammad Syarkawi Rauf

(Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanuddin/ Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia, 2015 – 2018)

The Royal Swedish Academy of Sciences memberikan penghargaan prestisius Sveriges Riksbank tahun 2025 dalam bidang ilmu ekonomi untuk mengenang Alfred Nobel kepada tiga ekonom, yaitu Joel Mokyr dari Northwestern University, Evanston, USA, Philippe Aghion dari The London School of Economics and Political Science, UK dan Peter Howitt dari Brown University, Providence, USA. 

Penghargaan yang diumumkan pada Senin sore pukul 16.45 WIB, 13 Oktober 2025 diberikan kepada ketiga ekonom di atas karena kontribusinya dalam menjelaskan pertumbuhan ekonomi yang digerakkan oleh inovasi (innovation-driven economic growth). 

Teorinya yang memiliki pengaruh sangat kuat adalah The Theory of Sustained Growth Throught Creative Destruction (teori pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui destruksi kreatif).

Teori ini didasarkan pada paradigma pertumbuhan Austrian Economist, Joseph Schumpeter. 

Schumpeterian growth paradigm menekankan pada inovasi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi. Intensitas inovasi tinggi karena didukung oleh kebijakan dan institusi ekonomi berupa rule of law memberikan insentif kepada entrepreneur melakukan research and development (R&D).

Terjadi proses destruksi kreatif, yaitu inovasi baru menggantikan teknologi lama. 

Paradigma Baru

Ekonom Philippe Aghion dan Peter Howitt (1992) yang berbagi hadiah Sveriges Riksbank memperkenalkan paradigma baru pertumbuhan berbasis pada Schumpeterian growth pardigm.

Keduanya menyatakan bahwa terdapat dua input utama dalam mendorong pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP), yaitu akumulasi modal dan inovasi. 

Dimana, inovasi baru yang menggantikan teknologi lama meningkatkan akumulasi modal dan marginal product of capital (tambahan output akibat tambahan satu unit barang modal/ MPK).

Peningkatan MPK mencerminkan perubahan GDP yang besar akibat peningkatan investasi (perubahan barang modal).

Seperti sebuah siklus, mula-mula inovasi meningkatkan akumulasi modal dalam perekonomian.

Pada tahap kedua, peningkatan akumulasi modal kembali mendorong inovasi lebih lanjut dan seterusnya. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved