Opini
LUKA DI BUMI, SUARA DARI RERUNTUHAN
Dalam sekejap, segala sesuatu yang berdiri kokoh runtuh bagai istana pasir dihantam gelombang pasang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Dr-Basrin-Ombo-SAg-MHI.jpg)
(mengenang kisah pilu, 28 September 2018)
Dr. Basrin Ombo, S.Ag., M.HI.
Hari itu, bumi bergetar. Tanpa peringatan, tanpa aba-aba.
Dalam sekejap, segala sesuatu yang berdiri kokoh runtuh bagai istana pasir dihantam gelombang pasang.
Tanah terbelah, bangunan ambruk, dan suara jeritan mengisi udara.
Sebuah gempa bumi mengguncang tanah Kaili, tak hanya mengguncang fondasi bangunan, tetapi juga mengguncang jiwa dan kehidupan jutaan orang.
Detik-detik itu seolah tak berujung. Orang-orang berlari mencari keselamatan, tak peduli kaki berdarah atau tubuh terluka.
Anak-anak menangis, orang tua kebingungan, dan mereka yang kehilangan keluarganya hanya bisa memeluk puing-puing sebagai satu-satunya sisa dari kehidupan yang pernah mereka miliki.
Dalam hitungan menit, kampung halaman berubah menjadi ladang duka. Rumah-rumah menjadi kuburan diam yang menyimpan kenangan, harapan, dan nyawa.
Gempa bumi bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah ujian besar bagi kemanusiaan.
Di balik angka-angka korban dan skala magnitudo, ada kisah-kisah manusia yang hancur.
Seorang ibu yang tak sempat menyelamatkan anaknya. Seorang anak yang menggenggam erat foto keluarganya yang tak kembali. Seorang relawan yang menggali puing dengan tangan kosong demi menyelamatkan sesama.
Tangisan mereka bukan hanya karena kehilangan, tetapi juga karena rasa tak berdaya menghadapi sesuatu yang datang begitu cepat, begitu kuat, dan begitu kejam.
Namun di tengah reruntuhan, selalu ada cahaya kecil harapan. Tangan-tangan saling menggenggam.
Tetangga yang tak saling kenal kini berbagi selimut dan makanan.
Tim SAR datang dari penjuru negeri, dan dunia ikut bersuara, mengirim bantuan dan doa.
Duka ini menyatukan kita. Musibah ini menyadarkan bahwa dalam sekejap, segala hal duniawi bisa sirna, yang tersisa hanyalah kemanusiaan.
Saat malam turun dan listrik belum kembali, langit malam menjadi saksi bisu betapa kuatnya manusia bertahan.
Tak ada atap di atas kepala, tapi ada doa yang terus dipanjatkan. Tak ada tempat tidur, tapi ada pelukan yang menghangatkan.
Musibah mengajarkan banyak hal, tentang keikhlasan, tentang ketabahan, dan tentang kekuatan untuk bangkit meski terluka.
Hari-hari ke depan takkan mudah. Butuh waktu untuk membangun kembali apa yang telah hancur, baik secara fisik maupun jiwa.
Namun kita percaya, dari puing-puing ini akan tumbuh kekuatan baru.
Gempa boleh meruntuhkan bangunan, tapi tidak akan pernah meruntuhkan semangat manusia yang saling menguatkan.
Mari kita bahu membahu. Mari kita bantu mereka yang kehilangan. Karena luka ini bukan hanya luka mereka, tapi ini luka kita semua.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.