Sabtu, 23 Mei 2026

Opini

Hidangan Zen, Sajian Nabi

Dalam tradisi Zen, ada sebuah kebijaksanaan: “Ketika makan, maka makanlah.” Kalimat ini sederhana, tetapi sarat makna

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Hidangan Zen, Sajian Nabi
Nur Salim Ismail
Nur Salim Ismail 

Oleh: Nur Salim Ismail

 

TRIBUN-SULBAR.COM- Di meja kehidupan, manusia sering kali terlalu sibuk memilih, memilah, dan membandingkan. Hidangan yang ada di depan mata tidak jarang dipandang sebelah mata, sementara pandangan hati justru melayang ke meja orang lain yang tampak lebih penuh, lebih lezat, lebih menggiurkan. 

Padahal, dalam pesan pendek Nabi Muhammad SAW, terkandung sebuah ajaran sederhana sekaligus mendalam: “Makanlah (makanan) yang ada di hadapanmu.”

Sekilas, sabda ini terdengar biasa, seolah hanya mengatur etika makan. Namun, jika direnungkan lebih jauh, ia menyimpan filsafat hidup yang tak kalah dalam dari ajaran para bijak Timur.

Ia mengajarkan kesadaran penuh (mindfulness), penerimaan, dan sikap cukup (qana‘ah), sikap batin yang membuat manusia mampu menikmati apa yang telah tersedia tanpa terjebak dalam nafsu yang tak bertepi.

Filosofi Zen dan Kesadaran Momen

Dalam tradisi Zen, ada sebuah kebijaksanaan: “Ketika makan, maka makanlah.” Kalimat ini sederhana, tetapi sarat makna. Ia menegaskan pentingnya hadir penuh dalam setiap aktivitas.

 Seorang biksu Zen bisa menghabiskan waktu lama hanya untuk menyeduh teh atau menikmati semangkuk nasi. Bukan karena nasi itu istimewa, tetapi karena dengan menyadarinya sepenuhnya, ia menjadi jalan menuju pencerahan.

Sabda Nabi dan hikmah Zen ini bertemu pada titik singgung yang sama: menerima sepenuhnya apa yang ada di hadapan, tanpa menoleh ke kanan-kiri dengan iri, apalagi menaruh angan pada sesuatu yang tidak hadir. 

Dengan demikian, makan bukan sekadar mengisi perut, melainkan latihan ruhani. Ia melatih manusia untuk tidak diperbudak oleh keinginan, melainkan berdamai dengan kenyataan.

Rasa cukup adalah azimat paling penting dalam mengarungi kehidupan. Tanpa rasa cukup, manusia akan terus merasa lapar bahkan di tengah hidangan berlimpah. Kita bisa melihat betapa masyarakat modern, dengan segala kemajuan teknologi dan produksi, justru dihantui oleh ketidakpuasan.

 Selalu ada telepon genggam terbaru, pakaian terbaru, kendaraan terbaru, rumah lebih mewah dan manusia seolah tak bisa berhenti mengejar bayangan itu.

Sabda Nabi tadi seakan menjadi pengingat keras: makanlah yang ada di hadapanmu. Artinya, nikmatilah yang sudah tersedia, syukuri yang ada, dan jangan rakus pada apa yang belum ada. Keserakahan bukan hanya soal makanan di piring, melainkan soal cara pandang terhadap hidup.

Keserakahan membuat manusia buta akan keindahan yang sederhana. Seperti seseorang yang terlalu sibuk memandangi menu restoran, tetapi tak pernah benar-benar menikmati makanan yang akhirnya dipesan.

Spiritualitas Kesederhanaan

Jika ditarik lebih jauh, sabda Nabi ini juga membuka jalan bagi spiritualitas kesederhanaan. Hidup sederhana bukanlah hidup kekurangan, melainkan hidup yang tahu batas. 

Nabi Muhammad sendiri dikenal sebagai manusia yang penuh kesahajaan. Ketika beliau duduk di hadapan hidangan sederhana, kurma, roti, atau segelas susu, beliau menikmatinya dengan penuh syukur, seolah itu adalah anugerah terbesar.

Kesederhanaan seperti ini juga menjadi inti dari ajaran sufistik. Para sufi meyakini bahwa dunia hanyalah perjamuan sementara, dan yang terpenting bukanlah banyaknya hidangan, melainkan bagaimana kita menikmatinya dengan hati yang jernih.

Mari sejenak kita bandingkan dengan fenomena hari ini. Media sosial penuh dengan parade flexing, di mana orang berlomba memamerkan hidangan mewah, liburan mewah, atau gaya hidup mewah. 

Di balik layar kaca, yang hadir bukanlah rasa syukur, melainkan kompetisi tak berujung untuk menunjukkan siapa yang lebih “berhasil.”

Di sinilah relevansi pesan Nabi itu terasa begitu menohok. Makanlah yang ada di hadapanmu nikmati apa yang ada, syukuri rezeki yang hadir. Jangan sibuk menoleh pada piring orang lain, karena itu hanya akan menimbulkan iri, kecewa, dan kehampaan.

Hidup yang penuh adalah hidup yang sadar. Piring sederhana di meja kita bisa jadi lebih kaya makna daripada jamuan besar yang tak pernah benar-benar kita nikmati.

Sabda Nabi tentang makan makanan di hadapan bukan hanya soal adab makan. Ia adalah panduan hidup yang melintasi zaman. Ia mengajarkan kita untuk hadir, menerima, bersyukur, dan merasa cukup. Dalam bahasa lain: ia mengajarkan Zen of life.

Barangkali, di tengah derasnya arus modernitas yang membuat kita sibuk mengejar apa yang tidak ada, pesan sederhana ini justru menjadi kompas: Hiduplah dengan apa yang ada di hadapanmu. Dengan begitu, kita tidak hanya makan untuk mengisi perut, tetapi juga untuk mengisi jiwa.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved