Rabu, 3 Juni 2026

Opini

Gas Air Mata dan Kesehatan Mental: PR Demokrasi di Balik Demo 17+8

Di tengah terik matahari, ribuan mahasiswa turun ke jalan membawa 17+8 Tuntutan Rakyat mulai dari desakan reformasi DPR, penghentian kriminalisasi

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Gas Air Mata dan Kesehatan Mental: PR Demokrasi di Balik Demo 17+8
Istimewa
Prima Trisna AjiDosen prodi Spesialis Medikal BedahUniversitas Muhammadiyah Semarang 

Oleh :

Prima Trisna Aji

Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

TRIBUN-SULBAR.COM - Demo mahasiswa menuntut 17+8 menjadi momentum koreksi bangsa Indonesia, akan tetapi juga mengungkap sisi lain seperti: kesehatan fisik dan mental mahasiswa yang sering diabaikan. “Tubuh boleh panas, akan tetapi demokrasi jangan sampai sakit.” Kalimat itu terasa tepat menggambarkan suasana akhir bulan Agustus hingga awal September 2025.

Di tengah terik matahari, ribuan mahasiswa turun ke jalan membawa 17+8 Tuntutan Rakyat mulai dari desakan reformasi DPR, penghentian kriminalisasi demonstran, hingga perlindungan pekerja dan perbaikan sistem perpajakan. Aksi ini bukan hanya unjuk rasa, tetapi juga penanda bahwa generasi muda mengambil peran penting dalam menjaga arah demokrasi yang lebih baik buat Republik tercinta ini.

Namun, di balik gegap gempita teriakan di jalanan, ada sisi lain yang jarang dibicarakan: dampak kesehatan fisik dan mental dari gerakan sosial ini. Data dari YLBHI menunjukkan bahwa ratusan mahasiswa mengalami luka akibat bentrokan, beberapa dilarikan ke rumah sakit, dan ada korban jiwa. Selain cedera fisik, potensi gangguan kesehatan mental seperti trauma psikologis dan kecemasan juga meningkat pasca-aksi.

Risiko Fisik yang Nyata

Aksi massa seperti demo 17+8 menuntut ketahanan fisik yang luar biasa. Mahasiswa harus berdiri lama, berdesakan, bahkan berlari menghindari gas air mata. Paparan gas air mata dapat memicu iritasi mata, batuk, sesak napas, bahkan memperparah penyakit asma. Penelitian dari WHO mencatat bahwa paparan berulang gas air mata dapat menyebabkan gangguan pernapasan jangka panjang bila tidak ditangani dengan baik.

Saya sempat berbincang dengan Raka (nama samaran), mahasiswa tingkat akhir dari kota Surakarta yang ikut aksi di depan Gedung DPR. Dengan mata masih merah, ia bercerita bahwa dirinya sempat kehilangan kesadaran beberapa menit karena menghirup gas air mata terlalu banyak.

“Saya hanya sempat cuci muka sebentar, lalu teman-teman menarik saya ke
trotoar,” ujarnya.

Ia harus dirawat di posko medis darurat selama satu jam sebelum kembali pulih. Kisah Raka hanyalah satu dari ratusan cerita mahasiswa lain yang mengalami sesak
napas, luka memar, bahkan patah tulang akibat bentrokan.

Beban Mental yang Sering Terlupakan

Tekanan psikologis tak kalah berat juga. Demonstrasi yang berujung bentrok dapatmeninggalkan trauma, rasa takut, bahkan gejala post-traumatic stress disorder (PTSD). Penelitian di University of California menemukan bahwa partisipan aksi protes dengan paparan kekerasan lebih rentan mengalami insomnia, mimpi buruk, dan kecemasan berkepanjangan.

Salah seorang mahasiswi dari Semarang, yang meminta namanya disamarkan, mengaku tidak bisa tidur selama dua malam setelah menyaksikan temannya dipukul aparat. “Setiap sayamemejamkan mata, saya seperti mendengar teriakan teman saya lagi,” tuturnya.

Kondisi seperti ini, bila tidak mendapatkan dukungan psikologis, dapat menurunkan motivasi belajar, memicu depresi, dan mengganggu kesehatan mental jangka panjang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved