Sabtu, 23 Mei 2026

Hari HAM Sedunia

SEJARAH dan Makna Peringatan Hari Hak Asasi Manusia

DUHAM disusun sebagai respons atas pelanggaran kemanusiaan yang terjadi selama Perang Dunia II.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto SEJARAH dan Makna Peringatan Hari Hak Asasi Manusia
Tribun-Sulbar.com/Canva Ai
HAM - Ilustrasi peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) se-dunia pada 10 Desember 2025 

Bagi Indonesia, peringatan Hari HAM juga menjadi evaluasi atas penegakan HAM nasional, sekaligus dorongan untuk memperbaiki layanan publik, perlindungan kelompok rentan, dan memastikan setiap warga memperoleh hak yang sama di hadapan hukum.

Peringatan di Tingkat Global dan Nasional

Setiap tahun, PBB mengangkat tema tertentu untuk memperkuat pesan HAM sesuai isu global.

Di berbagai negara, peringatan dilakukan melalui seminar, kampanye publik, pameran, hingga kegiatan edukasi di sekolah dan kampus.

Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM biasa menggelar rangkaian acara seperti dialog HAM, pemberian penghargaan, serta peluncuran program yang berkaitan dengan peningkatan layanan hak dasar masyarakat.

Harapan dan Tantangan

Meski DUHAM telah berusia lebih dari tujuh dekade, berbagai tantangan masih muncul, seperti diskriminasi, penyalahgunaan kekuasaan, kekerasan berbasis gender, serta ketimpangan akses pendidikan dan kesehatan.

Melalui peringatan Hari HAM, diharapkan seluruh pihak, pemerintah, lembaga penegak hukum, organisasi masyarakat sipil, dan warga, dapat memperkuat komitmen untuk mewujudkan masyarakat yang adil, aman, dan beradab.

Aktivis Soroti Militer Makin Dalam Masuki Ruang Sipil

Peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) setiap 10 Desember seharusnya lebih dari seremoni tahunan.

Aktivis HAM dan Demokrasi, Ady Anugrah Pratama, menilai momen ini perlu dijadikan refleksi kritis terhadap kondisi penegakan HAM di Indonesia.

Menurut Ady, perlindungan, penghormatan, dan pemenuhan HAM di Indonesia mengalami kemunduran cukup serius.

Di ranah hak sipil-politik, terjadi penyempitan kebebasan berpendapat, termasuk penangkapan ratusan orang pasca-demo Agustus 2025.

Kriminalisasi terhadap pejuang lingkungan juga semakin marak. 

“Militer semakin dalam memasuki ruang sipil, ini bertentangan dengan supremasi sipil yang penting dalam negara demokratis,” ujarnya.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved