Selasa, 21 April 2026

Haji 2026

Suhu Makkah dan Madinah 39 Derajat Jamaah Haji Diminta Minum Teratur

Dalam pengamatannya, suhu siang hari di Makkah mencapai sekitar 39 derajat Celsius, sementara di Madinah berkisar 38 derajat Celsius.

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Suhu Makkah dan Madinah 39 Derajat Jamaah Haji Diminta Minum Teratur
Tribun-Sulbar.com/Hasim Arfah
BANYAK MINUM - Tenaga kesehatan dari Tim Kesehatan Penyelenggara Ibadah Haji (PKPPJH) Sektor 1 Daerah Kerja Bandara, dr M Fathi Banna Al Faruqi meminta jamaah haji indonesia perbanyak minum karena suhu di Madinah dan Makkah yang panas 

Laporan Wartawan Tribun-Timur, Hasim Arfah dari Madinah

TRIBUN-SULBAR.COM, MADINAH — Kondisi cuaca di Arab Saudi selama musim haji 2026 diperkirakan tetap panas dengan tingkat kelembapan rendah, sehingga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi jemaah. 

Dalam pengamatannya, suhu siang hari di Makkah mencapai sekitar 39 derajat Celsius, sementara di Madinah berkisar 38 derajat Celsius.

Baca juga: 2 Gol Kemenangan Atas OTP 37 Mamuju Antar PS Taeso Putra Puncaki Klasemen Grup A Liga 4 Sulbar

Baca juga: Kasus Keracunan Sering Terjadi Ombudsman Soroti IPAL dan Kebersihan Dapur MBG di Sulbar

Petugas kesehatan mengingatkan pentingnya kesiapan fisik dan kebiasaan sederhana untuk mencegah risiko tersebut.
Tenaga kesehatan dari Tim Kesehatan Penyelenggara Ibadah Haji (PKPPJH) Sektor 1 Daerah Kerja Bandara, dr M Fathi Banna Al Faruqi, menjelaskan, suhu di wilayah Makkah dan Madinah menjelang musim haji sudah berada pada kisaran tinggi. 

Meski belum mencapai puncak musim panas, kondisi tersebut dinilai tetap lebih ekstrem dibandingkan suhu di Indonesia. Selain panas, karakter udara yang kering menjadi faktor tambahan yang dapat mempercepat penguapan cairan tubuh.

“Perbedaan suhu dan kelembapan ini perlu diantisipasi, karena udara kering membuat cairan tubuh lebih cepat menguap dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dampak paling awal yang umum dialami jemaah adalah dehidrasi ringan. 

Kondisi ini sering kali tidak disadari karena keringat langsung menguap tanpa terasa. 

Bibir Kering dan Pecah

Salah satu tanda awal yang kerap muncul adalah bibir kering dan pecah-pecah.

Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi luka terbuka yang berisiko terinfeksi. 

Selain itu, jemaah juga berpotensi mengalami sariawan yang dapat mengganggu asupan makanan.

“Ketika bibir pecah atau sariawan, jemaah menjadi tidak nyaman saat makan. Dampaknya, asupan energi berkurang dan kondisi dehidrasi bisa semakin parah,” jelasnya.

Gangguan sederhana tersebut, lanjutnya, dapat berdampak lebih luas terhadap kelancaran ibadah. 

Penurunan energi dan cairan tubuh berisiko mengganggu aktivitas fisik jemaah selama menjalankan rangkaian ibadah haji yang padat.

Sebagai langkah pencegahan, dr Fathi menekankan pentingnya menjaga hidrasi tubuh dengan pola minum yang tepat. Ia menganjurkan jemaah untuk tidak menunggu rasa haus, melainkan minum secara berkala.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved