Haji 2026
Suhu Makkah dan Madinah 39 Derajat Jamaah Haji Diminta Minum Teratur
Dalam pengamatannya, suhu siang hari di Makkah mencapai sekitar 39 derajat Celsius, sementara di Madinah berkisar 38 derajat Celsius.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Fathi-Banna.jpg)
Laporan Wartawan Tribun-Timur, Hasim Arfah dari Madinah
TRIBUN-SULBAR.COM, MADINAH — Kondisi cuaca di Arab Saudi selama musim haji 2026 diperkirakan tetap panas dengan tingkat kelembapan rendah, sehingga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi jemaah.
Dalam pengamatannya, suhu siang hari di Makkah mencapai sekitar 39 derajat Celsius, sementara di Madinah berkisar 38 derajat Celsius.
Baca juga: 2 Gol Kemenangan Atas OTP 37 Mamuju Antar PS Taeso Putra Puncaki Klasemen Grup A Liga 4 Sulbar
Baca juga: Kasus Keracunan Sering Terjadi Ombudsman Soroti IPAL dan Kebersihan Dapur MBG di Sulbar
Petugas kesehatan mengingatkan pentingnya kesiapan fisik dan kebiasaan sederhana untuk mencegah risiko tersebut.
Tenaga kesehatan dari Tim Kesehatan Penyelenggara Ibadah Haji (PKPPJH) Sektor 1 Daerah Kerja Bandara, dr M Fathi Banna Al Faruqi, menjelaskan, suhu di wilayah Makkah dan Madinah menjelang musim haji sudah berada pada kisaran tinggi.
Meski belum mencapai puncak musim panas, kondisi tersebut dinilai tetap lebih ekstrem dibandingkan suhu di Indonesia. Selain panas, karakter udara yang kering menjadi faktor tambahan yang dapat mempercepat penguapan cairan tubuh.
“Perbedaan suhu dan kelembapan ini perlu diantisipasi, karena udara kering membuat cairan tubuh lebih cepat menguap dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dampak paling awal yang umum dialami jemaah adalah dehidrasi ringan.
Kondisi ini sering kali tidak disadari karena keringat langsung menguap tanpa terasa.
Bibir Kering dan Pecah
Salah satu tanda awal yang kerap muncul adalah bibir kering dan pecah-pecah.
Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi luka terbuka yang berisiko terinfeksi.
Selain itu, jemaah juga berpotensi mengalami sariawan yang dapat mengganggu asupan makanan.
“Ketika bibir pecah atau sariawan, jemaah menjadi tidak nyaman saat makan. Dampaknya, asupan energi berkurang dan kondisi dehidrasi bisa semakin parah,” jelasnya.
Gangguan sederhana tersebut, lanjutnya, dapat berdampak lebih luas terhadap kelancaran ibadah.
Penurunan energi dan cairan tubuh berisiko mengganggu aktivitas fisik jemaah selama menjalankan rangkaian ibadah haji yang padat.
Sebagai langkah pencegahan, dr Fathi menekankan pentingnya menjaga hidrasi tubuh dengan pola minum yang tepat. Ia menganjurkan jemaah untuk tidak menunggu rasa haus, melainkan minum secara berkala.
| Jelang Keberangkatan Haji 2026, Kemenhaj Polman Bagikan 550 Koper untuk Jemaah |
|
|---|
| Jelang Pemberangkatan Haji, Lapak Pedagang Diserbu Calon Jemaah di Masjid Agung Syuhada Polman |
|
|---|
| Jemaah Haji Pasangkayu 2026, Tertua 86 Tahun dan Termuda 16 Tahun Gantikan Orang Tua |
|
|---|
| Kuota Haji Pasangkayu 2026 Turun, Kini Hanya 118 Jemaah |
|
|---|
| Calon Jemaah Haji di Polman Simulasi Tawaf dan Lempar Jumroh |
|
|---|