Kamis, 4 Juni 2026

Opini

Feodalisme Kultural di Dunia Pesantren

Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi ruang sosial dan kultural di mana ilmu, moral, dan adab berpadu.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Feodalisme Kultural di Dunia Pesantren
DOK MUH YUSRANG
MUH. Yusrang, S.H Penyuluh Agama Islam – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mamuju Tengah 

Oleh: Muh Yusrang 

Setiap pagi, di halaman pondok pesantren, selalu tampak pemandangan yang menenangkan: seorang santri muda mencium tangan sang kyai dengan penuh takzim.

Gestur sederhana itu bukan sekadar sopan santun, melainkan simbol penghormatan dan spiritualitas yang telah hidup berabad-abad di bumi Nusantara.

Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi ruang sosial dan kultural di mana ilmu, moral, dan adab berpadu.

Di sanalah muncul istilah yang sering diperdebatkan: feodalisme kultural, sebuah relasi hierarkis antara kyai dan santri yang oleh sebagian orang dianggap membatasi nalar kritis. Namun, apakah benar demikian?

Antara Feodalisme dan Adab

Secara historis, feodalisme dikenal sebagai sistem sosial-politik Eropa abad pertengahan, di mana rakyat tunduk kepada bangsawan sebagai imbalan perlindungan. Hubungan itu bersifat kaku dan menindas.

Namun, dalam konteks Nusantara, istilah feodalisme mengalami pergeseran makna. Ia bukan lagi soal penguasaan tanah, melainkan soal pola relasi sosial berbasis penghormatan dan hierarki moral.

Dalam dunia pesantren, hubungan kyai dan santri memang hierarkis. Santri patuh kepada nasihat kyai, menjaga tutur kata, bahkan mengabdi tanpa pamrih sebagai bentuk khidmah (pengabdian).

Namun berbeda dengan feodalisme klasik, relasi di pesantren justru lahir dari kesadaran spiritual dan keikhlasan hati. 

Di balik kepatuhan itu, tersimpan makna mendalam tentang bagaimana ilmu menuntut adab sebelum kepandaian.

Lirboyo dan Kearifan Tradisi

Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur, bisa menjadi contoh bagaimana “feodalisme pesantren” berjalan berdampingan dengan keterbukaan intelektual.

Berdiri sejak 1910 oleh KH Abdul Karim, Lirboyo tetap menjaga sistem pembelajaran klasik seperti sorogan dan wetonan di tengah arus modernisasi pendidikan.

Menurut penelitian Munir (2023), kepemimpinan kolektif para kyai di Lirboyo menjadi penopang stabilitas dan otoritas moral pesantren.

Para kyai tidak hanya berperan sebagai guru, tetapi juga penjaga tradisi, penengah sosial, dan sumber keteladanan.

Sedangkan riset Muhtadin dkk. (2023) menegaskan, loyalitas santri kepada kyai bukan hasil paksaan, tetapi tumbuh dari cinta dan penghormatan.

Hierarki sosial di Lirboyo bukan tembok pembatas, melainkan tangga spiritual. Santri dididik untuk memahami makna ketundukan hati sebelum menapaki kebebasan berpikir.

Dalam lingkungan seperti itu, penghormatan bukan bentuk pengekangan, tetapi jalan menuju kematangan rohani.

Tradisi Kritis di Balik Tembok Pesantren

Banyak orang luar menilai pesantren sebagai lembaga yang tertutup terhadap kritik. Padahal, justru di sinilah lahir tradisi ilmiah yang sangat terbuka — salah satunya melalui lembaga Bahtsul Masail.

Forum ini menjadi ruang diskusi antara santri dan kyai untuk membahas berbagai persoalan aktual: mulai dari hukum ekonomi modern, etika politik, hingga isu sosial kontemporer.

Dalam forum tersebut, santri tidak sekadar mendengar, tetapi aktif menyampaikan pendapat dan berdialog. Bahkan, tidak jarang terjadi perdebatan ilmiah yang hangat namun tetap beradab.

Tradisi seperti ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki mekanisme internal untuk mengolah kritik dan kontekstualisasi ajaran Islam tanpa kehilangan akar tradisinya.

Dengan kata lain, pesantren tidak menolak kritik — ia mendidik bagaimana kritik disampaikan dengan hormat, berdalil, dan beradab. Itulah yang membedakannya dari budaya debat dangkal di ruang publik modern.

Antara Adab dan Nalar

Menyebut pesantren sebagai lembaga “feodal” sering kali terlalu tergesa-gesa. Apa yang tampak sebagai feodalisme sebenarnya adalah konstruksi sosial yang menjaga tata nilai, etika, dan penghormatan.

Hubungan antara kyai dan santri bukanlah relasi kuasa, tetapi relasi batin yang didasari cinta dan keyakinan bahwa ilmu tidak dapat berkembang tanpa rasa hormat kepada sumbernya.

Dalam dunia pesantren, adab bukan sekadar etika formal, melainkan fondasi bagi proses pencarian kebenaran.

Seorang santri diajarkan untuk menghargai guru, kitab, dan tradisi — bukan untuk membatasi pikirannya, tetapi agar pikirannya berakar pada kerendahan hati. 

Dalam bahasa sederhana, pesantren menanamkan prinsip bahwa akal tanpa adab akan melahirkan kesombongan, sedangkan adab tanpa akal akan melahirkan ketertinggalan.

Di sinilah keseimbangan antara adab dan nalar diuji. Pesantren seperti Lirboyo memperlihatkan bahwa penghormatan kepada kyai tidak menumpulkan daya kritis, justru membingkainya dalam disiplin moral.

Forum Bahtsul Masail menjadi bukti bagaimana nalar Islam terus hidup di ruang yang beradab: kritik tetap disampaikan, tetapi dengan ketundukan hati; argumen dikemukakan, tetapi tidak dengan arogansi.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, tradisi ini memberi pelajaran penting bagi masyarakat modern.

Di tengah budaya debat yang sering menihilkan etika, pesantren menunjukkan bahwa kebebasan berpikir tidak harus meniadakan rasa hormat.

Adab menjadi pagar agar nalar tidak kehilangan arah, dan nalar menjadi cahaya agar adab tidak berubah menjadi ketaatan buta.

Feodalisme kultural di pesantren, terutama di Lirboyo, bukan sisa masa lalu yang harus dihapus, melainkan sistem nilai yang telah membentuk karakter pendidikan Islam di Indonesia.

Ia mengajarkan keseimbangan antara penghormatan dan kebebasan berpikir, antara ketaatan dan nalar kritis.

Melalui forum seperti Bahtsul Masail, pesantren telah membuktikan dirinya sebagai ruang dialog yang hidup dan kontekstual.

Di balik ketenangan serambi pesantren dan lantunan kitab kuning, tersimpan denyut intelektual yang terus berdialog dengan zaman.

Tradisi inilah yang menjaga wajah Islam Nusantara tetap teduh — berakar dalam adab, tumbuh dalam ilmu, dan selalu terbuka terhadap perubahan.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved