Opini
Era Ghibah Digital Ketika Lidah Berpindah ke Jempol
percakapan tentang aib, cela, atau kesalahan seseorang bisa menyebar lebih cepat dari cahaya, sering tanpa klarifikasi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Nur-Salim-Ismail-dok.jpg)
Artinya, semakin sensasional, semakin banyak emosi yang dipancing, semakin tinggi peluangnya untuk viral. Gibah digital, dalam kerangka ini, menjadi produk unggulan.
Ia mengundang rasa ingin tahu, amarah, dan keterlibatan. Ia memenuhi hasrat primitif manusia untuk tahu lebih banyak tentang kekurangan orang lain, sembari merasa lebih baik darinya.
Luka Sosial dan Krisis Empati
Apa yang sering luput dari perhatian adalah dampak psikologis dan sosial dari gibah digital. Orang yang menjadi sasaran pergunjingan publik dapat mengalami tekanan mental yang berat: kecemasan, kehilangan kepercayaan diri, bahkan depresi. Dalam beberapa kasus, kita menyaksikan korban perundungan digital yang akhirnya mengakhiri hidupnya. Tetapi dalam dunia digital yang terus bergerak, penderitaan pribadi mudah terlupakan, tergantikan oleh sensasi baru.
Di sinilah kita berhadapan dengan krisis empati.
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh informasi, kita mulai kehilangan kemampuan untuk diam, merenung, dan memikirkan akibat dari tindakan kita. Kita lebih tertarik pada kehebohan daripada kebenaran. Lebih cepat menghakimi daripada memahami. Serta lebih suka menyebarkan daripada menahan diri.
Filsuf kontemporer seperti Byung-Chul Han menyebut era ini sebagai zaman “transparansi brutal”, di mana kehidupan manusia berubah menjadi tontonan publik, dan keintiman menjadi barang dagangan.
Dalam The Transparency Society, Han menyatakan bahwa keterbukaan yang berlebihan, yang tidak disertai dengan tanggung jawab etis, justru mengikis kepercayaan dan kedalaman relasi antar manusia.
Gibah digital, dalam perspektif ini, adalah hasil dari kultur digital yang menuntut segala sesuatu untuk ditampilkan, dibicarakan, dan dibagikan, tanpa ruang untuk kerahasiaan atau kedalaman batin. Kita hidup dalam “masyarakat pengakuan” yang didorong oleh hasrat untuk eksis, meski harus menjatuhkan orang lain.
Jalan Kembali
Di tengah derasnya arus informasi dan derasnya arus celaan, kita perlu kembali kepada nilai-nilai etika dasar. Dalam tradisi Islam, larangan gibah sangat jelas.Al Quran menggambarkan gibah seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Ini sebuah perumpamaan yang mengandung kekuatan spiritual sekaligus simbolik. Gibah bukan sekadar kesalahan personal, tetapi juga pelanggaran terhadap kemuliaan kemanusiaan.
Namun di zaman jempol ini, menjaga lidah saja tak cukup. Kita perlu menjaga jempol. Kita perlu membangun kesalehan digital—yaitu disiplin etis dalam bermedia, yang mengakar bukan hanya pada aturan luar, tetapi pada keinsafan batin. Kesalehan digital bukan sekadar tidak gibah, tapi juga menolak menyebarkan, menolak menanggapi, dan menolak diam jika melihat ketidakadilan dalam bentuk perundungan digital.
Kita hidup dalam zaman yang membuat segalanya terlihat, tetapi tidak semuanya dipahami. Kita mudah melihat kesalahan orang, tetapi sulit melihat luka mereka. Kita cepat membagikan kabar, tetapi lambat merenungi akibatnya. Inilah tantangan etis zaman digital: menjadi manusia di tengah derasnya algoritma, sekaligus menjadi bijak dalam lautan emosi yang terpolarisasi.
Gibah digital akan terus ada, selama manusia masih punya rasa ingin tahu dan hasrat untuk merasa lebih unggul. Tapi kita bisa memilih: menjadi bagian dari arus itu, atau menjadi penenang gelombang, yang memilih untuk menjaga kata, menjaga jempol, dan menjaga hati.
Seperti Pesan Sang Nabi saw, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. Maka di zaman digital, tafsirnya melewati lompatan redaksi yang lebih adaptif: hendaklah ia mengetik yang baik, atau menahan jempolnya. (*)
| Mamasa: Karnaval di Atas Tangisan Epilepsi |
|
|---|
| Menimbang Energi Nuklir: Perspektif Hukum Tata Negara dalam Penguatan Kebijakan Energi Nasional |
|
|---|
| Man Behind the Gun Trump: The Domino Effect Reaching Indonesia |
|
|---|
| Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen Saat Konflik Timur Tengah Bank Indonesia Sedang Jaga Stabilitas |
|
|---|
| Menjaga Badai Geopolitik |
|
|---|