Opini
Tinggalkanlah Tradisi Lama, Rancang Perpisahan Sekolah Lebih Bermakna dan Punya Asas Manfaat
Lebih asas bermanfaat jadikan momen perpisahan sebagai wadah untuk pembelajaran, kreativitas, dan investasi jangka panjang bagi sekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Sutikno-Ketua-IGI-Sulbawesi-Barat.jpg)
Oleh:
Sutikno
Ketua IGI Sulbar
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Kegiatan perpisahan sekolah sering kali identik dengan acara mewah yang menguras biaya besar untuk konsumsi, dekorasi, dan hiburan.
Namun, tradisi lama seperti ini perlu mulai ditinggalkan dan digantikan dengan konsep perpisahan yang lebih bermakna, sederhana, namun tetap berkesan.
Bukan sekadar menghabiskan puluhan juta dalam sehari, tetapi menjadikan momen perpisahan sebagai wadah untuk pembelajaran, kreativitas, dan investasi jangka panjang bagi sekolah.
Mengubah Pola: Perpisahan Sebagai Pentas Karya
Ketimbang mengadakan acara besar dengan konsumsi berlebihan, perpisahan bisa diubah menjadi malam pentas karya di mana siswa menampilkan bakat seni mereka.
Podium dan panggung menjadi tempat bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas, sementara orang tua hadir sebagai penonton yang mendukung dengan penuh semangat—mirip dengan menghadiri konser atau pertandingan olahraga.
Memupuk Jiwa Wirausaha di Kalangan Siswa
Untuk siswa yang memiliki jiwa usaha, perpisahan dapat menjadi peluang untuk membuka stand jualan.
Ini bukan hanya melatih keterampilan wirausaha, tetapi juga menjadikan acara lebih interaktif dan bermanfaat secara ekonomi bagi siswa.
Mengalihkan Anggaran ke Investasi Jangka Panjang dan membangun kepedulian
Dana besar yang biasanya habis dalam sehari dapat dialihkan untuk hal-hal yang bertahan lama, seperti sumbangan alumni untuk fasilitas sekolah.
Misalnya, pengadaan AC, mesin air RO, atau bahkan pembangunan minimarket yang bisa menjadi sumber pendapatan sekolah.
Langkah ini tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan belajar, tetapi juga memperkuat nilai investasi jangka panjang untuk generasi mendatang, dan membangun rasa kepedulian terhadap Sekolah.
Memang tidak mudah mengubah budaya yang sudah mengakar, tetapi perubahan ini adalah tantangan yang membawa manfaat besar.
Perpisahan sekolah bukan sekadar ritual, tetapi kesempatan untuk menciptakan tradisi baru yang lebih positif, relevan, dan berdampak nyata.
Saatnya melangkah maju dengan visi yang lebih baik untuk pendidikan kolaborasi semesta untuk pendidikan di Sulawesi barat. (*)
| Prabowonomics Mengubah Market Share Menjadi Market Power |
|
|---|
| Keberpihakan terhadap Ekologi Perspektif Sustainable Ethics dan Ekoteologi Kontekstual di Mamasa |
|
|---|
| Manipulasi Narasi Digital & Profesionalisme Penegakan Hukum: Melawan Arus Trial by Social Media |
|
|---|
| Momentum Pertumbuhan dan Tantangan Kualitas Belanja |
|
|---|
| Ancaman Narkoba di Ujung Jari |
|
|---|