Literasi
Relasi Tasawuf dengan Psikologi
Keduanya memiliki titik temu yang menarik dalam memahami dimensi kejiwaan manusia secara mendalam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Nur-Salim-Ismail-dok.jpg)
Sebaliknya, jika dikuasai oleh nafsu insani atau ruhani, maka akan muncul keluhuran moral.
Ini sejalan dengan konsep regulasi emosi dalam psikologi modern, di mana pengendalian diri menjadi kunci kesehatan mental.
Yakni proses dimana individu mengelola, mengontrol, dan memodifikasi pengalaman, serta ekspresi emosinya agar sesuai dengan situasi dan tujuan yang diinginkan.
Proses ini melibatkan kemampuan untuk mengenali, memahami, dan menyesuaikan respons emosional secara adaptif.
Dalam pandangan Carl Gustav Jung, aspek spiritual sangat penting dalam perkembangan individu menuju aktualisasi diri (individuation).
Ia melihat simbol-simbol religius sebagai manifestasi dari alam bawah sadar kolektif dapat membantu penyembuhan psikis.
Pendiri psikologi analitik ini memperkenalkan konsep alam bawah sadar kolektif (collective unconscious) sebagai lapisan terdalam dari jiwa manusia yang berisi arketipe universal, simbol dan pola dasar yang diwariskan secara turun-temurun dan ditemukan di berbagai budaya.
Simbol-simbol religius seperti Ka'bah, Salib, Lingkaran, Cahaya, atau sosok dewa dianggap sebagai manifestasi arketipe tersebut.
Mereka bukan hanya gambar atau tanda biasa. Tetapi mewakili makna mendalam yang menyentuh aspek terdalam jiwa manusia.
Relasi antara tasawuf dan psikologi merupakan jembatan penting antara ilmu pengetahuan empiris tentang jiwa manusia dengan dimensi spiritualitas mendalam menurut perspektif agama Islam maupun pemikir Barat seperti Carl Gustav Jung.
Para pakar sepakat bahwa integrasi kedua bidang ini, tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang kondisi psikis.
Tetapi juga menawarkan metode praktis untuk mencapai kesejahteraan batiniah sekaligus jasmaniah secara harmonis.
Hal ini menunjukkan semakin terbukanya tabir pengetahuan yang menjelaskan bahwa metode-metode tasawuf dapat dipandang sebagai bentuk terapi kejiwaan tradisional yang efektif meningkatkan kualitas hidup spiritual sekaligus mental seseorang.
Titik jumpa keduanya bukan hanya dalam lintasan kajian akademik, namun juga mampu memainkan peran secara operasional dalam menuntaskan berbagai problem kejiwaan yang dihadapi oleh umat manusia.
Kedua bidang ini, baik psikologi maupun tasawuf, sama-sama menggunakan teknik introspeksi mendalam. Yaitu teknik kontemplasi kesadaran penuh terhadap Allah (Muraqabah) mirip dengan meditasi mindfulness dalam terapi kognitif-behavioral.
Serta latihan pengosongan diri (fana) menyerupai teknik detachment atau melepaskan pikiran negatif agar tidak membebani kondisi psikis.
Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa pendekatan tasawuf dapat menjadi pelengkap bagi praktik-praktik konseling modern, utamanya bagi mereka yang menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas tinggi. (*)