Literasi

Manisnya Iman

Iman itu sifatnya pribadi atau privat, iman seseorang tidak dapat dideteksi oleh orang lain.

Editor: Nurhadi Hasbi
dok Ilham Sopu
Ilham Sopu, salah satu cendikiawan Muslim asal Kabupaten Polman, Sulawesi Barat, sehari-hari sebagai pengajar di salah satu pondok pesantren di Pambusuang. 

Penulis: Ilham Sopu 

Ada tiga pilar dalam beragama, sebagaimana yang pernah ditanyakan oleh Jibril kepada Muhammad SAW, yakni iman, islam dan ihsan.

Ketiganya saling terkait, iman itu terkait dengan akidah atau pondasi, islam itu sebagai proses dari keimanan sedangkan ihsan hasil dari keimanan dan keislaman, atau output dalam beragama. 

Iman itu sifatnya pribadi atau privat, iman seseorang tidak dapat dideteksi oleh orang lain.

Namun demikian iman seseorang akan berdampak dalam amal sosialnya. 

Disisi lain menurut hadis dikatakan bahwa iman itu sifatnya fluktuatif, bisa menguat dan bisa melemah, atau iman itu yazidu wa yanqus, iman itu menguat ketika kita banyak melakukan ketaatan-ketaatan dalam perintah agama, dan melemah ketika kita banyak melakukan kemaksiatan.

Suatu ketika Nabi secara spontan bertanya kepada para sahabatnya,  Apakah kamu sekalian beriman?, dan dijawab oleh para sahabat, kami beriman ya Rasulullah, lalu Nabi melanjutkan pertanyaannya, apa tandanya bahwa kamu beriman?, kemudian dijawab kembali oleh para sahabat, Kami orang bersyukur kepada Allah karena memperoleh kecukupan, kemewahan, atau kemakmuran hidup.

Kami juga bisa bersabar atas cobaan-cobaan yang kami terima. Dan Kami sudah bisa menerima, sudah merasa puas(ridlo) dengan apa yang ditetapkan oleh Tuhan. 

Mendengar jawaban sahabat tersebut, Nabi berkomentar, kalian memang sudah beriman demi Tuhannya Ka'bah ini.

Dengan melihat jawaban sahabat tersebut, bahwa iman itu membutuhkan pembuktian atau manifestasi.

Bahwa bukti keimanan itu adalah kesediaan untuk bersyukur, bersabar dan ridho terhadap keputusan Tuhan.

Jadi iman itu bukan hanya ucapan verbal bahwa saya telah beriman, tetapi ada kelanjutan terhadap ucapan verbal tersebut.

Itulah sebab para ulama mendefinisikan iman dengan tasdiqun bilqalbi, ikrarun billisan dan amalan bil arkan, dibenarkan oleh hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota tubuh. Ini sangat sejalan dengan jawaban sahabat diatas.

Dalam dialog antara Nabi dengan malaikat Jibril, ketika Jibril mendatangi Nabi dengan para sahabatnya, jawaban Nabi terhadap pertanyaan Jibril tentang iman, Islam dan Ihsan.

Disitu Nabi menjawab seluruh pertanyaan Jibril. Dan jawaban Nabi tentang iman, itu bukanlah definisi tentang iman tapi itu adalah obyek-obyek yang harus diimani, dan  inilah menjadi dasar para ulama dalam menetapkan rukun-rukun iman. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved