Jumat, 22 Mei 2026

Opini

Ramadhan sebagai Bulan Membaca

Aspek intelektuanya ketika kita membaca, aspek spritualnya ketika kita melibatkan Tuhan dalam bacaan (bismirabbik)

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Ramadhan sebagai Bulan Membaca
dok Ilham Sopu
Ilham Sopu, salah satu cendikiawan Muslim asal Kabupaten Polman, Sulawesi Barat, sehari-hari sebagai pengajar di salah satu pondok pesantren di Pambusuang. 

TRIBUN-SULBAR.COM - Membaca adalah sumber kekuatan bagi manusia. Berbagai istilah disematkan kepada manusia, seperti hewan yang berakal, makhluk individu, makhluk sosial, dan ada juga yang mencoba memberikan nama manusia sebagai makhluk membaca. 

Ide ini sangat cerdas dan sangat didukung oleh idiom idiom keagamaan sekalipun tidak secara langsung di katakan sebagai makhluk membaca. 

Salah satu sumber ilmu adalah membaca. 

Itulah sebabnya ajaran atau perintah yang pertama sekali turun dari langit adalah perintah untuk membaca. 

Bahkan berkali kali Jibril mengulang kepada Muhammad untuk membaca, itu artinya bahwa membaca itu sangat urgen dalam kehidupan manusia. 

Perintah membaca dalam Quran adalah perintah membaca apa saja, dalam kaidah kebahasaan disitu tidak ditentukan obyek yang harus dibaca, baca apa saja, Baca Quran, baca hadis, baca sejarah, baca filsafat, baca fenomena alam, dan seterusnya.

Namun demikian kita tidak boleh berhenti dikalimat iqra' itu, ada sambungan bismirabbik, ini artinya bahwa perintah membaca itu tidak boleh melupakan Tuhan. Tuhan selalu dilibatkan ketika kita membaca. 

Apapun aktifitas kita nilai nilai luhur dari agama itu haruslah yang menjadi pendamping atau penyaring dari hal hal yang bertentangan dari fitrah kemanusiaan kita. 

Kita tidak boleh membaca to saja, kita tidak boleh berhenti pada kata iqra' itu, bismirabbik satu paket dengan iqra, ketika di coba dipisahkan, kita beriqra; saja itu akan melahirkan manusia manusia yang berbahaya, manusia manusia yang sekuler, manusia yang berpenyakit, itu yang terjadi di dunia barat, mereka sangat maju di bidang ilmu tapi mereka kering dibidang spritual, kemanusian mereka adalah kemanusian yang berpenyakit, mereka sangat miskin moralitas. 

Oleh sebab itu kedua jenis manusia ini hendaklah kita menjadikan musuh bersama, kita perangi dengan banyak belajar, kita lawan secara intelektual, kita terus lakukan pencerdasan terhadap generasi generasi kedepan sebagai kader kader yang secara paripurna punya kadar intelektual yang religius.

Demikian juga sebaliknya bismirabbik tanpa iqra itu sama bahayanya dengan iqra tanpa bismirabbik, sekarang ini banyak muncul manusia manusia yang berbismi rabbika tanpa punya iqra, mereka teriak dimana mana Allahu Akbar, tapi itu sekedar verbalistik saja, mereka lebih banyak di liputi napsu duniawi.

Bismirabbik tanpa iqra akan melahirkan manusia manusia bodoh, miskin secara intelektual, manusia manusia teroris, manusia manusia yang meledakkan bom bunuh diri dan membunuh manusia yang banyak. 

Marilah kita lawan kedua model manusia ini, kita berjihad secara intelektual untuk menciptakan kader kader generasi masa depan yang paripurna, yang bisa dibanggakan secara intelektual dan punya dasar religiusitas yang kuat.

Kalau kita menelaah lebih jauh tentang perintah membaca ini, setidaknya akan kita dapati tiga kecerdasan yang ada dalam surah ini, kita sudah familier dengan istilah istilah kecerdasan intelektual, kecerdasan spritual dan kecerdasan emosional. Bulan ramadan ini akan melahirkan manusia manusia yang cerdas secara intelektual, spritual dan emosional. Bulan ramadan sebagai bulan membaca, bulan semakin dekat kita dengan Tuhan dan kesabaran. 

Aspek intelektuanya ketika kita membaca, aspek spritualnya ketika kita melibatkan Tuhan dalam bacaan (bismirabbik), Dan aspek emosionalnya yang dalam bahasa agama adalah kesabaran,ketika kita membaca dan membaca terus dengan penuh kesabaran, Tuhan itu maha pemurah atau dalam bahasa surah al alaq ini dengan wa rabbukal akram.

Itulah tiga aspek yang menjadi prioritas dalam menjalankan puasa ramadhan, kita manfaatkan momentum ramadhan ini sebagai bulan membaca, sehingga kita bisa terlahir kembali menjadi manusia manusia yang cerdas secara intelektual, cerdas secara spritual dan cerdas secara emosional. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved