Minggu, 24 Mei 2026

Opini

Digital Nomad : Redefinisi Budaya Kerja

Fase tersebut menjadi awal mula hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia adaptif terhadap kebiasaan baru itu.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Digital Nomad : Redefinisi Budaya Kerja
Shalahuddin for Tribun Sulbar
Shalahuddin Pegiat Literasi 

Oleh :Shalahuddin
(Pandu Digital Madya Kemenkomdigi RI)

Teknologi berbasis internet dengan berbagai produk digital yang dihasilkan kian menjamur dan menunjukkan kemajuan signifikan dalam menjembatani aktivitas manusia menyelesaikan dan berinovasi dengan pekerjaan-pekerjaannya.

Selain urusan formil dan rutin tetap dilakukan di kantor, pada sejumlah aktifitas lainnya pun dapat dilakukan dari rumah mereka dengan dibantu teknologi sehingga mereka tetap terkoneksi tentu secara virtual atau daring.

Baik pada rekan kerjanya maupun dengan lapisan komunitas global lainnya. Fenomena ini terus berlanjut ditengah inovasi teknologi yang tumbuh dan berkembang dengan pesat.

Puncaknya di Indonesia, teknologi internet makin tak terelakkan keberadaannya sebagai penghubung saat penerapan pembatasan aktifitas diluar rumah kala wabah Covid-19 melanda Indonesia.

Secara spesifik misalnya pada kantor pemerintahan. Kala itu dipaksa beradaptasi sehingga hampir seluruh aktifitas pelayanan yang biasanya dilakukan interaksi langsung bergeser menggunakan perangkat daring demi menghindari potensi terpapar virus tersebut.

Kebiasaan-kebiasaan saling terhubung diruang virtual perlahan menjadi budaya baru masyarakat Indonesia. Tak hanya pada mereka yang terikat dalam satu institusi misalnya perkantoran, tetapi juga dalam interaksi-interaksi pada lapisan komunitas mengadaptasi kebiasaan baru tersebut.

Kehadiran internet dalam membangun relasi-relasi tersebut pun makin massif dengan sejumlah kebijakan masing-masing institusi yang kerap menerapkan work from home (WFH) bagi karyawan yang berhalangan hadir secara real time di kantor.

Fase tersebut menjadi awal mula hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia adaptif terhadap kebiasaan baru itu. Bahkan kini telah masuk dalam bagian yang tak terpisahkan dengan ragam proses konsolidasi dan ikatan relasi ditengah masyarakat Indonesia.

Sehingga kondisi geografis dan problem aksesibilitas lainnya bukan lagi persoalan yang mesti menjadi syarat agar menjadikan perangkat berbasis internet ini untuk diperbolehkan dalam penggunaannya.

Tetapi platform digital berbasis internet telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita secara general dan pada syarat-syarat formil tertentu misalnya dalam hal administratif, telah dianggap sebagai hal yang absah.

Contoh sederhananya tandatangan elektronik yang tak hanya dilakukan dari jarak yang jauh dan tempat berbeda. Tetapi juga telah menjadi bagian dari system tata kelola digitalisasi pemerintahan hari ini.

Kondisi ini kemudian terus berkembang sampai pada budaya bahkan identitas kerja yang selama ini dipahami sebagai aktifitas rutin yang terikat pada jadwal, jarak dan tempat mengalami pergeseran makna dalam konteks sosial.

Di mana digital nomade atau setiap individu yang menggunakan teknologi digital untuk bekerja dari mana saja, menjadi satu budaya baru yang telah membentuk lapisan sosial baru ditengah-tengah masyarakat kita.

Potensi ini juga banyak dimanfaatkan mengingat pekerjaan model seperti ini tak terikat pada lokasi fisik tertentu sehingga peluangnya makin terbuka. Apalagi mereka yang bergerak pada aktifitas freelancer, pengembang perangkat lunak, penulis konten, desainer grafis, pelatih online, hingga pengusaha e-commerce.

Tantangan Komunikasi Organisasi

Kecenderungan generasi millennial apalagi dengan lapisan generasi Z masuk dalam lapisan kelompok digital nomade bila diamati, cukup mudah dalam beradaptasi. Mereka merupakan dua lapisan generasi yang dapat saling bertautan dalam kebiasaan baru ini hampir tanpa kendala berarti.

Penggunaan perangkat teknologi digital berbasis internet cukup familiar diantara mereka. Pada gambaran statistik di Indonesia, dua kelompok mewakili masing-masing generasinya ini memang cukup dominan sebagai pengguna dibanding dengan kelompok lainnya.

Penetrasi internet generasi millennial telah tercatat 93 persen lebih. Kemudian pada kelompok generasi Z tercatat telah mencapai 87 persen lebih. Keduanya dalam potret penggunaan internet di tahun 2024 kemarin.

Sehingga dengan skill yang dimiliki, membuka potensi mereka melakukan pekerjaannya baik secara virtual. Sekaligus punya potensi positif yaitu dilakukan secara multitasking dengan pekerjaan lainnya yang boleh jadi tak berkaitan sama sekali dengan tugas wajibnya di institusi tempatnya bekerja.

Kendati demikian, secara statistik menunjukkan peluang positif, tetapi kita berhadapan dengan  tantangan dalam konteks komunikasi organisasi. Misalnya pada level institusi pemerintahan dibutuhkan adaptasi budaya baru digital nomad secara perlahan pada semua jenjang generasi yang berkecimpung didalamnya.

Sebab perubahan yang dialami bukan sekedar pola pergeseran penggunaan teknologi. Misalnya kordinasi berbasis whatsapp atau platform digital lainnya dalam hal administratif. Tetapi juga dalam berbagai hal khususnya terkait memperlakukan relasi kerja pada ruang digital.

Tantangan besar ini berada didepan mata apalagi dengan mereka yang bergerak pada institusi pemerintahan. Hal itu dapat kita lihat dalam data statistik BKN semester pertama tahun 2024. Bahwa populasi terbesar Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia baik yang statusnya sebagai PNS maupun PPPK, generasi millennial menunjukkan dominasinya.

Datanya mengungkapkan populasi kelompok ini mencapai hingga 54 persen. Sementara kelompok Generasi X (lahir pada 1965-1976) hanya berkisar 36 persen. Relasi antara keduanya tentu tidak sederhana di era digital ini.

Sebab keduanya hadir bersamaan pada era digital namun pola adaptasinya berbeda yang dipengaruhi oleh budaya masing-masing yang bergerak mengantar mereka dizamannya.

Pada kelompok Gen X misalnya, mereka terbiasa dan telah bertahun tahun dalam interaksi secara real time dan mencoba beradaptasi dengan teknologi digital tentu masih terbilang mudah. Apalagi dengan generasi millennial.

Tetapi dalam hal budaya kerja pada ruang digital yang berkembang misalnya tentu mengalami tantangan psikologis tersendiri. Sehingga perlu kolaborasi yang matang antara keduanya agar bisa saling menguatkan dalam menghadapi tantangan kerja masing-masing jenjang.

Fenomena digital nomad yang didalamnya dihuni oleh banyak kelompok millennial punya kecenderungan memilih kerja berbasis online sebab mempertimbangkan fleksibilitas waktu dan tempat. Kemudian mereka memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap budaya kerja lintas negara.

Pada aspek yang lain, digital nomad karena sering bekerja lintas budaya, dan perbedaan gaya komunikasi atau ekspektasi kerja justru menjadi pintu dapat memicu konflik pada level intern. Sebab wawasan dan paradigma terhadap pergaulan virtual yang luas membentuk mereka dalam melakukan komparasi cara pandang dan pola kerja yang menjadi preferensi atau kecenderungan mereka.

Untuk mengatasi potensi buruk yang dapat ditimbulkan oleh fenomena ini, selain solusi adaptasi semua pihak dalam penggunaan teknologi, mendorong kolaborasi kerja berbasis tim perlu dilakukan. Misalnya dengan menerapkan pola komunikasi dan jadwal kerja yang disepakati bersama.

Kemudian menata kelompok digital nomade dengan pendekatan psikologis dan sosial. Diantara modelnya yaitu pertama dengan membuka sesi “check-in” mingguan secara virtual dan real time untuk menjaga keterlibatan emosional dalam tim. Kedua, dorong digital nomad untuk mengambil cuti layar (screen detox) secara berkala.

Dengan upaya-upaya ini, relasi dalam institusi kerja pada lintas generasi yang ada, tidak mengalami hambatan berarti dengan terpaan digitalitas. Terkhusus pada cara pandang terhadap  setiap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab bersama.

Terlebih bagi mereka yang secara istitusional terikat dan bergerak pada sektor pemerintahan, digitalisasi mestinya mampu membantu mereka dalam menjawab harapan publik. Yaitu terlayani dan terbangunnya interaksi secara egaliter oleh ekosistem dan digital mindset yang baik ditengah system pemerintahan dan aparaturnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved