Sabtu, 25 April 2026

Opini

Judi Online Ancaman Serius Keharmonisan Keluarga

Bagi mereka yang sudah kecanduan, waktu lebih banyak dihabiskan untuk bermain judi online dibandingkan bersama keluarga.

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Judi Online Ancaman Serius Keharmonisan Keluarga
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi judi online. Pejabat Kementerian Komunikasi dan Digital RI ditangkap karena main judi online. 

Oleh: Urip Tri Wijayanti, Sukardi 

Pusat Riset Kependudukan

TRIBUN-SULBAR.COM - Judi online, atau sering disebut judol, saat ini semakin marak di masyarakat. Data dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menunjukkan bahwa sekitar 4 juta masyarakat Indonesia telah menjadi penggunanya. Mayoritas pengguna berada di usia di atas 30 tahun, meskipun tidak sedikit juga usia muda yang terlibat dalam praktik ini.

Bagi sebagian pengguna, judi online dianggap sebagai peluang menggiurkan untuk mendapatkan keuntungan besar secara instan. Tanpa perlu bekerja keras, berpanas-panasan, atau menguras tenaga, mereka berharap memperoleh penghasilan dengan mudah. Namun, di balik itu semua, terdapat ancaman besar yang sering kali diabaikan, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga. Saat keberuntungan memihak, kebahagiaan sesaat mungkin dirasakan. Namun, apa yang terjadi ketika kerugian menimpa? Artikel ini akan membahas dampak serius judi online terhadap keharmonisan keluarga, agar keluarga lebih waspada terhadap bahaya yang mengintai.

Masalah Finansial: Awal dari Keretakan Keluarga

Dampak finansial adalah masalah paling nyata yang dirasakan oleh keluarga pelaku judi online. Ketika mengalami kekalahan, mereka harus rela kehilangan sejumlah uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan keluarga. Pos-pos anggaran penting, seperti pendidikan anak atau kebutuhan harian, sering kali terabaikan. Bahkan, untuk menutupi kekurangan, banyak yang memilih berhutang. Sayangnya, langkah ini justru memperburuk kondisi keuangan keluarga.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), faktor ekonomi merupakan alasan terbanyak kedua di balik keputusan perceraian. Pada tahun 2019, tercatat sebanyak 120.732 kasus perceraian disebabkan oleh masalah ekonomi. Kondisi ini menunjukkan betapa seriusnya dampak finansial terhadap keharmonisan keluarga.

Tekanan Psikologis: Menjadi Pemicu Konflik

Selain masalah finansial, pelaku judi online sering mengalami tekanan psikologis, seperti stres, depresi, dan kecemasan berlebihan akibat kerugian yang dialami. Perasaan malu dan bersalah juga sering muncul, sehingga menciptakan jarak emosional antara anggota keluarga. Hubungan keluarga yang buruk ini tidak hanya memengaruhi pasangan, tetapi juga anak-anak.

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga tidak harmonis cenderung mengalami gangguan psikologis. Mereka merasa tidak nyaman di rumah, kehilangan semangat belajar, dan mencari kebahagiaan di luar keluarga. Dalam banyak kasus, lingkungan pergaulan negatif, seperti pergaulan bebas atau kebiasaan merokok, menjadi pelarian mereka. Jika dibiarkan, dampaknya bisa merusak masa depan anak.

Menurunnya Intensitas Komunikasi Keluarga

Bagi mereka yang sudah kecanduan, waktu lebih banyak dihabiskan untuk bermain judi online dibandingkan bersama keluarga. Akibatnya, intensitas komunikasi dalam keluarga menurun drastis. Anak-anak merasa diabaikan, sementara pasangan kehilangan perhatian. Situasi ini memperburuk keharmonisan rumah tangga, membuat hubungan antaranggota keluarga semakin renggang.

Mengatasi Ancaman Judi Online

Judi online bukanlah masalah sepele. Dampaknya nyata dan mengancam keharmonisan rumah tangga. Untuk membantu anggota keluarga yang terjebak dalam lingkaran judi online, diperlukan dukungan penuh dari keluarga. Komunikasi yang terbuka, jujur, dan saling mendukung menjadi kunci utama untuk mengembalikan keharmonisan.

Langkah-langkah preventif juga perlu dilakukan, mulai dari edukasi tentang bahaya judi online hingga membangun lingkungan keluarga yang sehat dan penuh perhatian. Mari bersama-sama berantas judi online, dimulai dari keluarga kita masing-masing. Dengan begitu, kita dapat melindungi generasi mendatang dari ancaman yang merusak ini.

Tulisan ini sebagai refleksi akhir tahun 2024 untuk menyongsong tahun 2025 yang lebih baik. 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved