Literasi Ulama

Akses Keilmuan Ulama Moderat

Kebanyakan ulama-ulama klasik mengalami masa kejayaan keilmuan karena banyak safari intelektual atau perjalanan dari satu daerah ke daerah lainnya.

Editor: Nurhadi Hasbi
Facebook Ilham Sopu
Ilham Sopu 

Penulis: Ilham Sopu

Teringat pesan sang guru Allah yarham KH Muhtar Adam "Al Safarah madrasah kabirah", bahwa perjalanan itu banyak mengandung pembelajaran yang besar.

Pernyataan ini sering dikutip oleh Beliau disetiap kesempatan, dan ini telah dibuktikannya dengan banyak melakukan perjalanan ke luar negeri dan berbagai daerah di Indonesia.

Setiap perjalanan yang beliau lakukan khususnya keluar negeri selalu menghasilkan atau melahirkan sebuah buku, dia banyak mencatat hasil perjalanannya, kemudian diramu dalam sebuah buku.

Banyak ulama-ulama yang memanfaatkan hasil perjalanannya dari satu daerah ke daerah lainnya, hasil pengamatan, penelitian di berbagai daerah dan menghasilkan suatu karya yang besar.

Ulama-ulama klasik banyak yang melakukan diaspora untuk mencari ilmu, dia meninggalkan daerahnya menuju ke daerah yang lain yang dihuni oleh ulama-ulama besar, dengan tujuan menimba ilmu ke ulama tersebut.

Ulama-ulama dulu sangat suka melakukan perjalanan karena banyaknya pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari hasil perjalanan. Ada inspirasi-inspirasi baru yang dihasilkan dalam suatu perjalanan.

Betapapun faqihnya Imam Syafi'i sebagai salah satu imam madzhab, akhirnya mendapatkan inspirasi baru setelah mengadakan perjalanan ke Mesir yang tadinya tinggal di Baghdad, sehingga muncul qaul qadim dan qaul jadid, atau pendapat lama dan pendapat baru.

Begitupun dengan imam Abu Hanifah, ada pendapat-pendapat baru yang dimunculkan setelah bertemu dengan imam ja'far, sehingga terkenal ungkapan imam Abu Hanifah yang sangat terkenal, "laula sanatani lahalaka Nu'man", seandainya tidak pernah bersama imam ja'far selama dua tahun, maka celakalah Nu'man", nama lain dari Abu Hanifah adalah Nu'man.

Kebanyakan ulama-ulama klasik mengalami masa kejayaan keilmuan karena banyak safari intelektual atau perjalanan dari satu daerah ke daerah lainnya.

Dalam konteks keindonesiaan tokoh-tokoh nasional, ulama-ulama, cendekiawan-cendekiawan seperti Gus Dur, Harun Nasution, Cak Nur, Quraish Shihab, Syafi'i Maarif, Komaruddin Hidayat, Ali Yafie, Sahal Mahfudz, Jalaluddin Rakhmat dan sederat ulama-ulama, atau cendekiawan lainnya, adalah para diaspora-diaspora ulung, yang pindah dari satu tempat ke tempat yang lain demi untuk menambah kapasitas keilmuannya.

Dan mereka berhasil dalam melakukan safari keilmuan dan menjadi juru bicara umat atau referensi keilmuan pada masanya.

Mereka juga adalah ulama-ulama yang mempunyai banyak karya atau sangat banyak melahirkan buku-buku karangan.

Kalau kita membaca satu persatu karya para ulama atau cendekiawan tersebut, kita akan kagum betapa mereka ini dalam perjalanan intelektual mereka sangat serius dalam menapaki jalan keilmuan, kebanyakan mereka sejak awal dalam penentuan ilmu, mereka juga masuk keluarga yang pas-pasan, namun tekad mereka sangat tinggi dalam usaha untuk memperdalam keilmuan.

Membaca perjalanan intelektual dan pemikiran tokoh tersebut adalah hal yang mengasyikkan, kita terbawa rasa haru dan ikut merasakan betapa dalam perjalanan menuntut keilmuan adalah hal sangat berat dan butuh kesabaran.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved