Rabu, 15 April 2026

Opini

Menyaring Fakta di Tengah Arus Deras Informasi

Kita tak akan membincang panjang tentang bagaimana mereka menjalani proses politik hingga memenangkan pemilihan gubernur dan wakil gubernur.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Menyaring Fakta di Tengah Arus Deras Informasi
Tribun Sulbar / Ist
Relawan TIK/Alumni Pondok Pesantren DDI Baruga Shalahuddin.(Ist) 

Media sosial melalui akun-akun anonim itu, kini hadir paling terdepan menyapa dalam genggaman kita (smartphone).

Bahkan mulai bergerak serius melakukan personalisasi konten yang agak spesifik.

Kalau diperhatikan lebih seksama, media arus utama yang bergeser pada platform digital (online) sesungguhnya juga sedang berjibaku berebut kepercayaan publik dengan user media sosial.

Semuanya diperhadapkan pada peluang kecepatan. Budaya jurnalisme kita juga menyesuaikan dengan situasi tersebut bila tak ingin menyebutnya sedang berevolusi.

Lantas dimana tumpuan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang dapat dipercaya di tengah derasnya arus informasi pada platform digital kita.

Jawabannya pada media yang tetap komitmen menjalankan etika, norma dan tanggungjawab sosialnya pada ruang redaksi dalam menyaring fakta.

Sebab jurnalis di tengah perkembangan dan akses teknologi informasi dan komunikasi hari ini, sesungguhnya dibanjiri data dan fakta.

Kita berharap era digital dan kehadiran AI tidak mengantar awak media disorientasi hingga disibukkan dengan tentang cerita mana yang paling banyak memikat klik, suka, komentar, dan bagikan atau hanya menjadi momentum saling mengamplifikasi pesan dan fakta yang beredar.

Karena kita tak ingin seperti yang dikhawatirkan oleh Idi Subandy Ibrahim, seorang Peneliti Media dan Komunikasi yang mengutarakan tentang kemajuan teknologi yang dapat merubah insan redaksi seperti mesin pabrik perakit viral, sehingga memperburuk kondisi kerja redaksi dan kualitas jurnalisme.

Lantas bagaimana mengurai benang kusut kompetisi dua arus (media online dan media sosial) tersebut? Pertama, bagi media online yang bergerak secara domestik (di daerah), selain tanggung jawab rutinitas redaksional, kita menanti tanggung jawab sosialnya untuk terus berpartisipasi dalam literasi media untuk warga.

Membincang literasi media hari ini mungkin kita nyaris apatis. Tetapi tidak untuk sebuah agenda mencerahkan dilevel domestik. Apalagi untuk di Sulawesi Barat.

Sebab kita mengalami lompatan cukup cepat saat masyarakat kita belum sepenuhnya memahami hingga akhirnya melewati fase media arus utama berperan dalam tatanan kehidupan sosial mereka.

Selain itu, literasi media digital menjadi jembatan edukasi yang sekaligus memandu masyarakat kita mengenali potensi dan indikasi informasi palsu (hoax).

Kedua, melibatkan stakeholder untuk membangun kolaborasi menghadapi akselerasi internet. Melalui kolaborasi, akan lahir upaya bergendengan tangan dan mengikat tanggung jawab bersama untuk tatanan yang lebih berkualitas.(*)

 

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved