Selasa, 21 April 2026

Opini

Menyaring Fakta di Tengah Arus Deras Informasi

Kita tak akan membincang panjang tentang bagaimana mereka menjalani proses politik hingga memenangkan pemilihan gubernur dan wakil gubernur.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Menyaring Fakta di Tengah Arus Deras Informasi
Tribun Sulbar / Ist
Relawan TIK/Alumni Pondok Pesantren DDI Baruga Shalahuddin.(Ist) 

Catatan untuk memperingati HUT ke-2 Tribun-sulbar.com

Oleh: Shalahuddin
Pandu Digital Indonesia/Relawan TIK Sulawesi Barat

Medio tahun 2011 silam merupakan masa di mana suasana kontestasi politik lokal cukup menggeliat.

Pasalnya waktu itu masyarakat Sulawesi Barat bakal mengikuti pemilihan gubernur secara langsung untuk yang kedua kalinya.

Singkat cerita kala itu pasangan Anwar Adnan Saleh dan Aladin S. Mengga dinyatakan secara sah sebagai pemenang.

Kita tak akan membincang panjang tentang bagaimana mereka menjalani proses politik hingga memenangkan pemilihan gubernur dan wakil gubernur.

Tetapi kita hendak merefleksi bagaimana gerak media arus utama saat itu cukup mengambil peran dalam proses dialektika wacana politik lokal.

Kita tak dapat membayangkan bahwa geliat isu politik hingga polarisasi kala itu sehebat hari ini pada media sosial dan media online.

Sebab dua belas tahun lalu itu, koran, radio dan televisi masih merajai ruang percakapan hingga ke warung-warung kopi pinggir jalan.

Facebook dan Twitter belum menjadi preferensi utama masyarakat dari sekian sumber yang tersedia.

Apalagi bila kaitannya dengan isu politik. Hanya mereka yang memiliki kesadaran dan kemauan melakukan komparasi terhadap ragam informasi sehingga peduli terhadap teknologi baru itu.

Demikian halnya dengan media online yang basisnya website belum seramai saat ini.

Kendalanya bisa dipahami saat itu ibu kota Provinsi yang terletak di Kabupaten Mamuju dalam hal infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi masih terbatas pada kalangan tertentu saja.

Jaringan internet misalnya belum dapat diakses dengan mudah seperti saat ini.

Membuat banyak orang belum sepenuhnya menjadikan media berbasis platform digital mendapat ruang dihati mereka.

Tetapi kini setelah satu dekade lebih berlalu, situasi itu berubah.

Geliat media online mulai mengakrabkan diri dengan masyarakat millenial dan mulai makin terasa pada medio 2014 silam.

Jejaring internet membaik dan media online pun dapat diterima oleh sejumlah institusi pemerintahan sebagai lembaga resmi yang mendapat kesempatan sama dalam membangun komitmen kerjasama publikasi.

Bila kita mengamati sejumlah media yang bergerak dengan platform digital, satu persatu bermunculan khususnya di Sulawesi Barat.

Salah satunya media Tribun-Sulbar.com.

Saat tulisan ini diurai hari jadi Tribun-Sulbar.com memasuki usianya yang kedua tahun.

Kehadirannya di Sulawesi Barat tentu menemui dinamika yang berbeda dengan yang terjadi tahun 2011 silam.

Sehingga selagi usianya yang masih relatif baru, banyak harapan yang kita gantungkan.

Harapan kita, di tengah arus deras informasi, tribun.sulbar.com mampu menjadi candradimuka hadirnya media yang menyajikan arus fakta secara seimbang.

Termasuk dengan membangun komitmen kolaborasi yang baik dengan segenap lapisan masyarakat.
Dengan demikian “kebisingan” informasi yang ada sekarang dapat diredam.

Kita meyakini komitmennya "makin melokal makin digital" adalah narasi optimisme berdampingan dengan akselerasi penataan daerah yang beradaptasi terhadap lompatan dan kesenjangan digital.

Sebab kini warga sesungguhnya makin dijejali ragam media dan informasi yang aksesnya difasilitasi internet.

Hal ini membuat kita makin banyak pilihan. Belum lagi yang lebih spesifik seperti media sosial yang kian masif menghadirkan fitur terbarunya untuk mendukung proses sebaran informasi berakselerasi dengan berbagai platform digital lainnya.

Lalu apa kabar media arus utama Koran, Radio dan Televisi? Apakah menghilang? Atau tak mampu membendung? belum sepenuhnya.

Malah untuk ditinggalkan, gejalanya makin menguat. Mengapa demikian? sebab media arus utama nyaris kalah melaju mendaratkan informasi pada masyarakat dan tak sedikit media online tampaknya bakal bernasib sama bila tak adaptif terhadap akselerasi teknologi dan informasi yang bergerak melalui media sosial.

Media sosial melalui akun-akun anonim itu, kini hadir paling terdepan menyapa dalam genggaman kita (smartphone).

Bahkan mulai bergerak serius melakukan personalisasi konten yang agak spesifik.

Kalau diperhatikan lebih seksama, media arus utama yang bergeser pada platform digital (online) sesungguhnya juga sedang berjibaku berebut kepercayaan publik dengan user media sosial.

Semuanya diperhadapkan pada peluang kecepatan. Budaya jurnalisme kita juga menyesuaikan dengan situasi tersebut bila tak ingin menyebutnya sedang berevolusi.

Lantas dimana tumpuan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang dapat dipercaya di tengah derasnya arus informasi pada platform digital kita.

Jawabannya pada media yang tetap komitmen menjalankan etika, norma dan tanggungjawab sosialnya pada ruang redaksi dalam menyaring fakta.

Sebab jurnalis di tengah perkembangan dan akses teknologi informasi dan komunikasi hari ini, sesungguhnya dibanjiri data dan fakta.

Kita berharap era digital dan kehadiran AI tidak mengantar awak media disorientasi hingga disibukkan dengan tentang cerita mana yang paling banyak memikat klik, suka, komentar, dan bagikan atau hanya menjadi momentum saling mengamplifikasi pesan dan fakta yang beredar.

Karena kita tak ingin seperti yang dikhawatirkan oleh Idi Subandy Ibrahim, seorang Peneliti Media dan Komunikasi yang mengutarakan tentang kemajuan teknologi yang dapat merubah insan redaksi seperti mesin pabrik perakit viral, sehingga memperburuk kondisi kerja redaksi dan kualitas jurnalisme.

Lantas bagaimana mengurai benang kusut kompetisi dua arus (media online dan media sosial) tersebut? Pertama, bagi media online yang bergerak secara domestik (di daerah), selain tanggung jawab rutinitas redaksional, kita menanti tanggung jawab sosialnya untuk terus berpartisipasi dalam literasi media untuk warga.

Membincang literasi media hari ini mungkin kita nyaris apatis. Tetapi tidak untuk sebuah agenda mencerahkan dilevel domestik. Apalagi untuk di Sulawesi Barat.

Sebab kita mengalami lompatan cukup cepat saat masyarakat kita belum sepenuhnya memahami hingga akhirnya melewati fase media arus utama berperan dalam tatanan kehidupan sosial mereka.

Selain itu, literasi media digital menjadi jembatan edukasi yang sekaligus memandu masyarakat kita mengenali potensi dan indikasi informasi palsu (hoax).

Kedua, melibatkan stakeholder untuk membangun kolaborasi menghadapi akselerasi internet. Melalui kolaborasi, akan lahir upaya bergendengan tangan dan mengikat tanggung jawab bersama untuk tatanan yang lebih berkualitas.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved