Rabu, 15 April 2026

Opini

Bebas dan Transparan, Titik Perjumpaan Media Sosial dan Demokrasi

Narasi demokrasi dan teknologi digital bertemu pada muara yang sama, transparansi dan kebebasan.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Bebas dan Transparan, Titik Perjumpaan Media Sosial dan Demokrasi
Shalahuddin, S.Sos., MM
Shalahuddin, S.Sos., MM , Relawan TIK Sulbar / Anggota RAPI Wil. 03 Mamuju 

Mestinya kita melihat secara komprehensif atas gejala sosial yang bergerak di medsos saat itu.

Kekuatan narasi yang bergerak pada media digital waktu itu menunjukkan bahwa warganet dengan mudahnya melontarkan kritik pedas pada penyelenggara pemerintahan saat ini. Tak seperti dimasa media digital belum hadir di Indonesia.

Dari aspek yang lain,kita menemukan ekspresi politik tak lagi dominan diwakili oleh kelompok baby boomers. Tapi mereka yang masih berusia belia turut nimbrung didalamnya.

Segmen ini sesungguhnya kini jadi sasaran sejumlah politisi untuk menggaet mereka dalam satu militansi dan loyalitas pada satu gerbong politik tertentu.

Meski bila diurai lebih jauh mereka pun masih dalam kelompok medsos minded yang beririsan tipis dalam barisan floating mass.

Sehingga dengan fenomena ini, kedepan kesiapan multipihak terutama yang akan unjuk diri pada ruang publik sebagai figur pelayan mesti bersiap berhadapan dengan ekspresi bebas dan transparansi yang dituntut oleh masyarakat.

Keterwakilan suara rakyat yang dahulu dimediasi melalui media massa dan partai politik menemukan bentuk alternatif baru yaitu media sosial.

Di sana tak ada yang dapat mendominasi antara satu dengan yang lainnya. Masing-masing memiliki ruang dan kesempatan yang sama.

Oleh karenanya, dengan realitas demokrasi serta akselerasi teknologi digital hari ini tentu literasi politik dan digital dibutuhkan kehadirannya dan digerakkan beriringan. Sebab bakal menjadi pintu edukasi yang positif.

Literasi ini bukan hanya menyasar pada masyarakat umum yang masih awam terhadap gerak demokrasi dan digitalisasi.

Tapi juga bagi mereka yang selama ini telah bergerak pada institusi politik yang menjadikan demokrasi sebagai system gerak mereka.

Secara spesifik, literasi politik turut akan diramu dengan adaptasi terhadap perkembangan sosial di media digital.

Demikian halnya dengan literasi digital yang kini kian adaptif kurikulumnya menyambut pemilu 2024 mendatang.

Sejumlah isu strategis penting untuk didorong sebagai pijakan dasar dalam upaya edukasi tersebut. Diantaranya budaya dan etika digital jelang pemilu.

Namun semuanya dapat bergerak bila stakeholder komitmen untuk bergandengan tangan menjemput dan menata ruang sosial baru era digital ini.

Stakeholdernya siapa? Ya mereka yang peduli pada fenomena perubahan sosial yang bergerak di media sosial.

Namun pertanyaannya kemudian adalah siapa saja yang kini komitmen pada literasi politik dan digital digerakkan bersama? Allahu A’lam.(*)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved