Berita Mamasa
Kembangkan Desa Wisata, Wabup Marthinus Tiranda Minta Warga Mamasa Ber-Mindset Pariwisata
Masyarakat, kata dia, harus berperan sebagai pengguna, sekaligus sebagai pelaku usaha pembangunan pariwisata itu sendiri.
Penulis: Adriansyah | Editor: Ilham Mulyawan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Wakil-Bupati-Mamasa-Marthinus-Tiranda-5.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM - Kabupaten Mamasa dikenal sebagai daerah di Sulawesi Barat, yang mempunyai banyak sekali objek wisata.
Sebut saja Kuburan Tedong-tedong di Kecamatan Balla, Minanga di Sesenapadang. Ada Wisata Alam yaitu Air Terjun Sarambu, Permandian Air Panas di Desa Rambusaratu.
Kemudian Agro Wisata Perkebunan Markisa di Kecamatan Mamasa, dan Wisata Budaya Rumah Adat, Perkampungan Tradisional Desa Ballapeu.
Selain itu ada Gunung Mambulilling yang terletak di sebelah timur Kota Mamasa dan merupakan salah satu gunung tertinggi yang dimiliki oleh daerah ini dengan ketinggian 2741 mdpl.
Hingga desa wisata Tondok Bakaru, yang masuk lima puluh desa wisata Kemenparekraf.
Potensi wisataq Mamasa memang sangat menjanjikan, jika bsia dikelola dengan baik, maka bisa mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang menguntungkan.
Ibaratnya, Mamasa adalah 'Toraja' nya Sulawesi Barat.
Toraja memang merupakan daerah di Sulsel yang dikenal akan destinasi wisatanya, hingga kerap dikunjungi wisatawan.
Wakil Bupati Mamasa, Marthinus Tiranda mengatakan, untuk mengembangkan potensi wisata dibutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, khususnya yang bergerak di sektor Pariwisata.
Dia menyebutkan, sekalipun sumber daya alam yang dimiliki sangat potensial untuk dikembangkan sebagai objek wisata, tetapi jika masyarakat tidak ber-mindset pariwisata, maka akan sulit untuk mengembangkan pariwisata di daerah sendiri.
“Seperti di Desa Tondok Bakaru yang masayarakat disana sudah ber-mindset pariwisata. maka kita inginkan seluruh masyarakat Mamasa di berbagai desa itu juga mampu ber-mindset serupa. Itu kalau pariwisata kita mau maju, maka masyarakat juga harus ber-mindset pariwisata,” terang Marthinus.
Masyarakat, kata dia, harus berperan sebagai pengguna, sekaligus sebagai pelaku usaha pembangunan pariwisata itu sendiri.
Sembari menambahkan berbagai keunggulan dari Desa Wisata tersebut juga terus dioptimalkan, misalkan atraksi, alam, budaya, dan produk-produk buatan manusia atau ekonomi kreatif.
“Sebab kunci utama kesuksesan Desa Wisata adalah tata kelola, baik itu di hulu maupun hilir. Di hilir adalah pemasaran, di hulu adalah back office-nya, akunting, logistik, inventori, lalu aset (homestay)," pungkas Marthinus.