Sabtu, 16 Mei 2026

Berita Mamasa

4 KK Warga Transmigran Asal NTT Tinggalkan Transmigrasi Rano Mamasa

Empat KK itu terpaksa meninggalkan transmigrasi Rano setelah bertahan selama tiga bulan.

Tayang:
Penulis: Adriansyah | Editor: Munawwarah Ahmad
zoom-inlihat foto 4 KK Warga Transmigran Asal NTT Tinggalkan Transmigrasi Rano Mamasa
Tribun Sulbar / Samuel Mesakaraeng
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Mamasa, Hermin Lullulangi 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMASA - Empat kepala keluarga (KK) terdiri dari 14 jiwa transmigran asal Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggalkan transmigrasi Rano, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar).

Empat KK itu terpaksa meninggalkan transmigrasi Rano setelah bertahan selama tiga bulan, lantaran menganggap Transmigrasi Rano tidak sesuai harapan.

Mereka menganggap bahwa lokasi transmigrasi tidak memungkinkan karena merupakan daerah rawan longsor.
Sementara lapangan kerja yang dijanjikan ternyata tidak sesuai.

Dikatakan, lokasi transmigrasi juga minim fasilitas, karena tidak ada Puskesmas, tidak ada tempat ibadah bagi umat katolik, dan jauhnya lokasi sekolah bagi anak-anak.

Persoalan ini menuai polemik di Kabupaten Sikka, NTT dan ramai diberitakan media lokal.

Hal tersebut diakui Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Mamasa, Hermin Lullulangi.

Dia mengaku kaget setelah melihat berita yang menyebut, ada warga transmigrasi kembali ke daerah asal lantaran dianggap tidak sesuai.

Dijelaskan Hermin, warga yang kembali ke daerah asal merupakan pendaratan terakhir sebanyak 24 dari 250 KK penempatan.

Menurutnya, transmigran asal Sikka saat awal penempatan pada 20 Agustus 2022 lalu sudah memprotes kondisi wilayah transmigrasi di Mamasa yang dianggap bergunung-gunung.

"Saya sampaikan bahwa sudah inilah kondisi transmigrasi Mamasa, lokasinya bergunung-gunung," kata Hermin, kepada wartawan Tribun-Sulbar.com, ditemui di ruang kerjanya, Jumat (27/1/2023).

Walau bergunung-gunung, lanjut Hermin, juga bisa dijadikan lahan hunian dan bisa digunakan sebagai lahan produktif.

Menurut Hermin, seperti pada umumnya sebelum penempatan warga trans, kabupaten asal harus meninjau lokasi penempatan.

Namun hingga penempatan tidak ada dari pihak Dinas Transmigrasi Sikka yang datang meninjau lokasi.

"Kami tunggu untuk meninjau dan disampaikan ke warganya apakah mereka cocok atau tidak, tetapi mereka tidak datang meninjau," ujarnya.

Soal fasilitas yang juga jadi alasan 4 KK transmigran asal Sikka kembali, Hermin mengaku semua fasilitas umum disediakan.

Baik pendidikan, kesehatan dan rumah ibadah.

Hanya saja sesuai kondisi wilayah, fasilitas ini agak berjauhan dari satu tempat ke tempat lainnya.

"Di sana itu ada sekolah, gereja dan masjid," jelas Hermin lagi.

Kendati begitu, Hermin tak menampik, di UPT Rano, hanya ada satu gereja yakni gereja protestan.

Sementara yang dipersoalkan adalah gereja katolik.

"Kalau gereja katolik memang belum ada," pungkasnya.

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com/Semuel Mesakaraeng 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved