OPINI
Fa Aina Tadzhabun
Ungkapan ini lebih bermakna negatif dan sifatnya bertanya, ada apa dengan sesuatu tersebut
Oleh : Ilham Sopu
TRIBUN-SULBAR.COM - Dalam percakapan sehari hari, banyak ungkapan-ungkapan yang sering muncul dan sering terulang. Ada
bahasa-bahasa yang sudah baku, yang sudah menjadi ungkapan sehari-hari. Dalam berbagai bahasa di dunia, ada persamaan-persamaan makna ungkapan, tapi berlainan bahasa. Tuhan sudah membagi manusia itu berbangsa-bangsa, bersuku-suku, tentu saja berlain-lainan bahasa mereka, tujuan Tuhan, dalam menata manusia dalam bentuk plural adalah untuk saling kenal mengenal.
Dalam berbahasa, ada berbagai macam ekspresi dalam menyampaikan suatu bahasa, ada ekspresi bertanya, ada ekspresi meminta, ada ekspresi penegasan, ada ekspresi perintah, dan lain sebagainya.
Begitupun dalam berbagai bahasa di dunia. Ada ungkapan dalam bahasa yang sangat populer dan familiar dalam dunia tulis-menulis yakni "Quo Vadis", ungkapan ini biasanya mengarah atau mempertanyakan keberadaan sesuatu.
Ungkapan ini lebih bermakna negatif dan sifatnya bertanya, ada apa dengan sesuatu tersebut. Misalnya Quo Vadis partai Islam di Indonesia, mempertanyakan keberadaan partai Islam yang selalu gagal dalam membesarkan partai, kenapa selalu terjadi friksi, kenapa tidak bisa maju dan berkembang.
Sehingga kita memberikan label Quo Vadis karena sejarahnya seperti itu. Kalau dalam bahasa Indonesianya.
Yang menarik karena dalam bahasa Al Qur'an, juga ada kalimat yang sama, yaitu Fa Aina Tadzhabun yang biasa diterjemahkan dengan "Hendak ke mana kamu", Dalam konteks Al-Qur'an, ketika kita merujuk ke terjemahan kementerian agama, kalimat itu ditujukan kepada orang-orang Quraisy yang selama ini sudah menempuh jalan yang salah, berada dalam bingkai politeisme, setelah Tuhan menurunkan petunjuk Al-Qur'an lewat Muhammad Saw, namun petunjuk itu tidak digubris. Sehingga Al- Qur'an memberikan statement kepada masyarakat Quraisy "Fa Aina Tadzhabun", hendak kemana kamu,
petunjuk sudah diturunkan tapi masih tetap bertahan dengan petunjuk-petunjuk yang lama yang bertentangan dengan jati diri manusia.
Al-Qur'an itu adalah kitab petunjuk untuk manusia, hudan linnas, hudan lil muttaqin, jadi seluruh ayat- ayat Al-Qur'an mengandung petunjuk, ke jalan yang benar dan petunjuk untuk menghindari jalan yang salah. Berbagai cara Al-Qur'an untuk mengajak manusia, supaya berada di jalan yang benar, kadang kita diajak untuk berfikir. Betapa banyaknya, ayat-ayat Al-Qur'an, yang mendorong manusia menggunakan akal pikirannya.
Dibanyak ayat dalam Al-Qur'an kita banyak menemukan penggunaan ungkapan seperti, kenapa kamu tidak berfikir?, kenapa kamu tidak merenung, kenapa kamu tidak melihat (dengan berfikir) bagaimana unta diciptakan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung ditegakkan, bagaimana bumi dihamparkan. Ini adalah ungkapan-ungkapan Al-Qur'an, untuk mengajak kita memanfaatkan potensi berfikir kita.
Ada juga ungkapan yang diulang-ulang oleh Tuhan, untuk mengajak manusia supaya manusia berada dalam koridor menyadari, betapa banyak nikmat Tuhan yang disodorkan kepada manusia namun manusia ingkar, sehingga Tuhan berkali-kali mengulang ungkapan dalam Al-Qur'an "Nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan", betapa nikmat Tuhan itu, tidak mampu kita deteksi secara keseluruhan.
"Jika engkau akan menghitung nikmat Tuhan, kamu tidak akan mampu untuk menghitungnya(Hadis)".
Pertanyaan-pertanyaan atau sindiran-sindiran yang disodorkan oleh Al-Qur'an adalah bentuk pertanyaan dari Tuhan yang ditujukan kepada manusia supaya manusia menyadari akan kekeliruannya dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Pertanyaan-pertanyaan dari Tuhan tersebut akan tetap relevan disetiap waktu dan tempat.
Tuhan sudah menyiapkan seluruh fasilitas di bumi ini untuk manusia. Semenjak Adam as diturunkan dari surga karena pelanggaran yang dilakukannya, tetapi setelah turun ke bumi, dan menyadari kekeliruan yang dia lakukan dan kembali kepada jalan kebenaran yang telah diturunkan Tuhan kepadanya, yaitu fasilitas agama berupa perintah dan larangan Tuhan.
Ini terbukti ketika Adam waktu jatuh dari surga dan setelah sampai di bumi,dia dalam keadaan telanjang, dan Adam menutupi auratnya dengan fasilitas yang disiapkan oleh Tuhan dimuka bumi.
Ini bisa diterjemahkan bahwa ketika kita melanggar larangan Tuhan seperti yang terjadi pada Adam, pada hakekatnya kita telanjang, kebobrokan kita nampak, disitulah kita mengalami kejatuhan, dan pakaian yang selama ini menutupi aurat kita itu terlepas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Ilham-Sopu.jpg)