Opini
Malaikat 'Kaget'
Dalam kajian keagamaan, ada tiga makhluk Tuhan yang berbeda-beda dalam menyikapi perintah Tuhan yaitu Malaikat, Nabi dan manusia biasa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Ilham-Sopu.jpg)
Oleh : Ilham Sopu
Mendengar kalimat malaikat kaget, tentu kita juga akan kaget, malaikat kok kaget, makhluk yang tidak pernah berhenti dalam beribadah kepada Tuhan.
Mereka tidak berhenti bertasbih, bertahmid, dan menyucikan Tuhan.
Sebagaimana dalam Al-Qur'an "Kami selalu bertasbih, memuji, dan menyucikan nama-M", itulah Malaikat, makhluk Tuhan yang paling setia dalam melakukan penyembahan kepada Tuhan-nya.
Dalam kajian keagamaan, ada tiga makhluk Tuhan yang berbeda-beda dalam menyikapi perintah Tuhan yaitu Malaikat, Nabi dan manusia biasa.
Malaikat makhluk Tuhan yang sangat taat kepada Tuhan dan tidak pernah berbuat durhaka kepada Tuhan.
Ketika Tuhan akan menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi sebagaimana dalam Qur'an "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi, Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih, memuji-Mu, dan menyucikan nama-Mu?".
Sangat menarik dialog antara Tuhan dan Malaikat, Tuhan memberitahukan kepada Malaikat, tentang rencananya untuk menciptakan wakilnya di dunia atau Khalifah.
Mendengar perkataan Tuhan tersebut Malaikat agak terkejut, kaget, lalu bertanya kepada Tuhan dengan sedikit protes.
Wahai Tuhan, apakah Engkau akan mengangkat mandataris-Mu yang nantinya senang membuat kerusakan dan menumpahkan darah?.
Tuhan tidak menyalahkan Malaikat, dengan protesnya tersebut, dan memang terbukti bahwa prediksi Malaikat itu betul-betul terjadi, banyak kejadian-kejadian akibat ulah manusia.
Kerusakan alam, lingkungan sehingga menimbulkan banjir, para teroris yang melakukan bom bunuh diri yang terbunuh banyak manusia yang tidak bersalah, perang antar sesama manusia, dan kejadian-kejadian lainnya dilakukan oleh manusia.
Para Malaikat merasa sudah berbuat yang terbaik bagi Tuhannya. Perkataan Malaikat, kami selalu bertasbih, memuji, dan menyucikan nama-Mu.
Apakah tidak cukup dengan amalan itu?. Seakan-akan dalam pandangan Malaikat bahwa yang berhak untuk mengembang tugas sebagai khalifah adalah dirinya.
Karena kapasitas mereka yang selalu bertasbih, memuji dan menyucikan nama Tuhan.
Ketiga kapasitas ini adalah suatu maqam yang tinggi di hadapan Tuhan.
Makhluk Malaikat adalah makhluk yang punya kapasitas wirid yang konsisten dihadapan Tuhannya.
Itulah yang menjadi andalan para Malaikat sehingga mereka berani mengajukan sedikit protes kepada Tuhan karena kapasitas wiridnya yang konsisten dihadapan Tuhan.
Tuhan tidak merespon secara langsung pertanyaan Malaikat juga tidak menyalahkan jawaban Malaikat tentang akan terjadinya berbagai tragedi kemanusiaan.
Tuhan sangat memahami, apa yang menjadi kekhawatiran Malaikat tentang rencana Tuhan untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Tetapi, ada hal yang sangat penting atau sangat emergensi yang tidak mampu dijangkau oleh prediksi Malaikat, Malaikat hanya mampu memprediksi hal-hal buruk yang akan terjadi, tetapi tidak mampu memprediksi hal-hal yang substantif tentang keadaan perennial ke depan.
Itulah sebabnya Tuhan menjawab "Sesungguhnya Aku lebih mengetahui, apa yang kamu tidak ketahui".
Di sini Tuhan, dalam kajian kebahasaan, menggunakan fi'il mudhari atau kata kerja yang menunjukkan yang akan datang.
Di sinilah Tuhan memberikan jawaban yang jauh ke depan, yang tidak mampu ditangkap radar para Malaikat, ada keterbatasan pemahaman Malaikat terhadap eksistensi kekhalifahan yang akan di nakodai oleh Adam dan turunannya ke depan.
Malaikat hanya mampu untuk bertasbih dan bertahmid dalam mendekati Tuhan, sedangkan Adam atau manusia yang dipilih oleh Tuhan, disamping ada kemampuan untuk bertasbih, bertahmid atau memuji Tuhan dan mensucikan nama Tuhan juga mampu berkreasi atau berinovasi memanfaatkan akal yang dimilikinya dalam mendekati Tuhan dan memakmurkan bumi ini.
Setelah Tuhan memperkenalkan Manusia kepada para Malaikat, dengan beberapa pertanyaan berupa simbol-simbol keilmuan, yang sebelumnya ditanyakan kepada Malaikat tetapi para Malaikat tidak mampu meresponnya, namun setelah ditawarkan kepada Adam atau manusia, dia mampu menjawabnya secara sempurna.
Karena Adam memiliki kemampuan untuk memprediksi secara ilmiah atau keilmuan apa yang akan terjadi ke depan, jadi kemampuan Adam yang dimilki adalah kemampuan bersifat ganda, yaitu kemampuan bertasbih dan bertahmid yang pusatnya di hati dan kemampuan untuk berfikir atau berkreasi dan berinovasi yang pusatnya di fikir.
Dengan membaca keberatan Malaikat kepada Tuhannya, disatu sisi ada kebenaran, karena memang terbukti bahwa manusia banyak menyalahi fitrah kemanusiaannya sehingga menimbulkan masalah, yakni banyaknya kejadian-kejadian yang merusak nilai-nilai kemanusiaan yang terjadi di permukaan bumi diakibatkan oleh hasil rekayasa manusia.
Tapi disisi yang lain, Malaikat juga mengakui eksistensi manusia sebagai makhluk dwi dimensi, terbukti manusia mampu memberi jawaban-jawaban di depan Malaikat.
Tuhan membuktikan jawabannya ketika berdialog dengan Malaikat lewat firman-nya bahwa Tuhan lebih mengetahui,apa yang tidak diketahui oleh Malaikat.
Banyak pelajaran yang dapat kita dipetik lewat dialog antara Malaikat dan Tuhannya.
Kita harus belajar kepada Malaikat, yang memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh Tuhan, sehingga mereka menjadi makhluk yang konsisten dalam memanfaatkan fasilitas tasbih, tahmid dan konsisten dalam menyucikan Tuhan.
Dan mengakui kemampuannya dalam memanfaatkan kapasitasnya, begitupun kita banyak belajar kepada Adam, yang setelah mendapatkan isyarat keilmuan dari Tuhan, dia memanfaatkan keilmuan itu dengan baik sesuai dengan petunjuk Tuhannya.
Bumi Pambusuang, 11 Januari 2023