OPINI

Dongeng dan Sejarah

Sebelum sampai ke semifinal, Maroko telah menyingkirkan tim-tim besar: Belgia dan Spanyol, serta yang terakhir Portugal plus Cristiano Ronaldo.

Editor: Ilham Mulyawan
abdiwan/tribuntimur.com
Willy Kumurur (kanan) bersama Koordinator Tribun Timur, Imam Wahyudi Eki 

 

oleh: Willy Kumurur
penikmat bola

TRIBUN-SULBAR.COM - "Hidup itu sendiri adalah dongeng yang paling indah," tutur Hans Christian Andersen, penulis dongeng mashyur dari Denmark. Koran Turki, The Daily Sabah, melukiskan perjalanan tim Maroko di Piala Dunia 2022 sebagai “Dongeng Piala Dunia.”

Seperti biasanya, hal-hal seperti ini yang terjadi: turnamen sepak bola dimulai, tim underdog tersingkir di babak penyisihan grup, dan yang bertahan adalah negara adidaya di sepakbola seperti Prancis, Jerman, Spanyol, Brasil, dan negara lain dengan tim nasional yang kuat secara tradisional mendominasi sisa kompetisi.

Namun, apa yang terjadi? Brasil dan Jerman, dua raksasa dunia yang di lencananya masing-masing terpatri bintang lima dan empat –sebagai jumlah berapa kali meraih trofi Piala Dunia- telah tersingkir dari kancah Piala Dunia 2022.

Brasil kalah dari Kroasia dan Jerman bahkan tidak bisa melewati babak penyisihan grup.

Sebelum sampai ke semifinal, Maroko telah menyingkirkan tim-tim besar: Belgia dan Spanyol, serta yang terakhir Portugal plus Cristiano Ronaldo.

Setelah kemenangan atas Spanyol, penyiar Al Jazeera berbicara tentang "gelombang euforia" di seluruh dunia Arab. Inilah dongeng yang ditulis oleh Maroko.

Pelatih Maroko, Walid Regragui, dalam kemenangan bersejarah atas Portugal mengatakan: “Kami adalah Rocky Balboa Piala Dunia,” sebagaimana diwartakan oleh ESPN. Selain menulis dongeng, “Mereka sedang menulis sejarah sepak bola Maroko, mereka memiliki kekuatan kolektif dengan penampilan yang memberi mereka banyak kepercayaan diri," ujar bek tengah Prancis, Raphael Varane.

Sekarang ini, Maroko bertekad untuk menerobos rintangan apa pun yang berani menghalangi jalan mereka. Di semifinal dinihari nanti Maroko berhadapan dengan negara bekas penjajah mereka: Prancis.

Sebagaimana yang diceritakan sejarah kepada kita, pendudukan Prancis di Maroko dimulai pada tahun 1907 dan berlanjut hingga 1934.

Dengan Perjanjian Fez tahun 1912, Prancis membentuk protektorat atas Maroko dan menghabiskan dua dekade berikutnya menguras kekayaan alam Maroko seperti fosfat, bijih besi, dan timbal. Saat ini, cadangan fosfat Maroko diyakini hampir 75 persen dari semua cadangan fosfat secara global.

The Daily Sabah menulis bahwa sekarang, sudah waktunya bagi Maroko untuk menunjukkan kepada mantan penjajah mereka -melalui prestasi olahraga- bahwa mereka tidak lagi tunduk pada sang tuan.

Masa-masa kolonialisme dan protektorat telah berakhir –meskipun beberapa aspek imperialisme terus bertahan, seperti cengkeraman korporasi Prancis pada bisnis Afrika– sehingga kemenangan melawan Prancis akan sangat berarti bagi orang Afrika dan orang lain di seluruh dunia yang menderita akibat kolonialisme Eropa di masa lalu.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved