Ricuh Arema vs Persebaya

Tragedi Kanjuruhan Arema vs Persebaya, La Nyalla Sebut Panpel dan Polisi Lemah Dalam Koordinasi

La Nyalla yang juga Senator asal Jawa Timur itu menambahkan, pengosongan tribun dengan menembakkan gas air mata, jelas menyalahi aturan FIFA.

Editor: Ilham Mulyawan
Tribun Jatim
Aksi suporter Arema saat masuk lapangan usai kalah dari Persebaya 2-3 

TRIBUN-SULBAR.COM - Pertandingan Liga 1 antara tuan rumah Arema FC Malang melawan Persebaya Surabaya berakhir rusuh, hingga menyebabkan ratusan nyawa suporter melayang.

Kerusuhan ini terjadi sdetelah tuan rumah Arema FC kalah dengan skor 3-2, pada pertandingan lawan Persebaya yang dilaksanakan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur pada Sabtu (1/10/2022) malam.

Kekalahan ini pun kemudian memancing emosi puluhan Aremania, suporter Arema FC hingga masuk ke lapangan.

Baca juga: Kerusuhan Kanjuruhan, Om Bogel: Tidak Seharusnya Suporter Meninggal di Lapangan

Baca juga: Tragedi Kerusuhan Kanjuruhan, YLBHI Minta Pemeritah Bentuk Tim Penyelidikan Independen

Begitu pertandingan berakhir, ribuan Aremania masuk ke lapangan sebagai wujud protes setelah Arema FC kalah dari rival abadinya, Persebaya Surabaya.

Data terakhir, sebanyak 174 orang meninggal dunia.

Rerata meninggal karena berdesak-desakan, hingga terinjak ketika berebut keluar dari stadion saat kerusuhan terjadi, ditambah, aparat kepolisian juga menembakkan gas air mata ke tribun penonton, membuat para penonton kian panik.

Ketua DPD RI, LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyesalkan pola penanganan terhadap suporter yang turun ke stadion oleh polisi dengan menghajar dan menembaki gas air mata, sehingga terimbas kepada penonton yang ada di tribun.

Akibat kepanikan massal dan dampak dari gas air mata, ratusan orang berdesakan yang ingin keluar dari tribun menjadi korban.

“Larangan penggunaan gas air mata itu telah diatur FIFA dan tertuang pada Bab III tentang Stewards, pasal 19 soal Steward di pinggir lapangan. Jelas ditulis disitu, dilarang membawa atau menggunakan senjata api atau gas pengendali massa," tukas LaNyalla.

ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti Bicara soal korupsi CPO minyak Goreng
ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti Bicara soal korupsi CPO minyak Goreng (La Nyalla for Tribun-Sulbar.com)

Mantan Ketua Umum PSSI itu juga menilai hal itu membuktikan lemahnya koordinasi.

Padahal sebelum match, pasti ada rakor pengamanan antara Panpel dengan Kepolisian.

“Entah apa alasan yang membuat polisi menembakkan gas air mata ke tribun, sehingga membuat kepanikan massal,” tandas LaNyalla seperti dikutip dari rilis yang diterima.

Mantan Ketua Badan Timnas PSSI mengatakan, strategi evakuasi yang utama adalah mengamankan pemain, dan itu sudah dilakukan.

"Selanjutnya tinggal mencegah penonton melakukan perusakan atau saling serang antara dua kubu. Sambil semua pintu keluar dan jalur evakuasi dibuka untuk pengosongan stadion," katanya.

Senator asal Jawa Timur itu menambahkan, pengosongan tribun dengan menembakkan gas air mata, jelas menyalahi aturan FIFA.

Dunia sepakbola tanah air berduka. Ratusan pendukung Arema meninggal setelah terjadi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang. Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyebut peristiwa ini menjadi catatan kelam sepakbola nasional.

LaNyalla yang turut berdukacita atas peristiwa tersebut, meminta semua stakeholder sepakbola nasional melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang.

"Kerusuhan sepakbola memang pernah terjadi. Tapi kejadian di Kanjuruhan ini sangat luar biasa, karena jumlah korban sangat besar. Sebuah catatan kelam bagi persepakbolaan nasional, bahkan dunia. Saya prihatin dan menyesalkan kenapa hal itu harus terjadi," ujarnya.

Sebelumnya, Kapolda Jawa Timur, Irjen Nico Afinta, mengatakan kerusuhan pecah usai pertandingan Derby Jawa Timur yang mempertemukan Arema Malang dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022). Kerusuhan dipicu kekalahan tim tuan rumah Arema Malang.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved