Breaking News:

Gempa Majene

CARA Warga Aholeang Penuhi Kebutuhan di Pengungsian, Pinjam dan Gerap Tanah Orang Lain

Gempa bumi pada 15 Januari 2021 lalu membuat mereka kehilangan tempat tinggi dan tanah untuk berkebun.

Penulis: Masdin | Editor: Nurhadi Hasbi
Tribun-Sulbar.com/Masdin
Habu (41) salah satu warga dusun Aholeang yang ditemui Tribun-Sulbar.com di pengungsian berlokasi di Dusun Alle-Alle, Desa Mekatta, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Minggu (9/1/2022) 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAJENE - Hampir satu tahun di tempat pengungsian membuat sebagian warga Dusun Aholeang dan Rui, Desa Mekatta, Kecamatan Malunda, mulai kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Gempa bumi pada 15 Januari 2021 lalu membuat mereka kehilangan tempat tinggi dan tanah untuk berkebun.

Bercana alam tersebut disusul longsor membuat pemukiman mereka hilang tertimbun tanah.

Akibatnya, tidak banyak yang bisa mereka perbuat untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari di tempat tinggal sementara.

Salah seorang pengungsi warga Aholeang, Habu (41) mengaku makin hari makin pusing memikirkan biaya kebutuhan hidup.

"Tidak ada perubahan, yang ada malah makin susah," ujarnya saat ditemui di rumah sementarnya, Minggu (9/1/2022).

Sebelum terjadi gempa, Habu memiliki lahan yang ia tanami aneka pohon untuk penghasilan seperti kemiri dan coklat.

Namun lahan tersebut sudah tertimbun longsor dan tidak bisa digarap lagi.

"Tanaman coklat, kemiri, langsat, durian tertimbun juga ada sekitar dua hektar batu semua (material longsor)," ucapnya.

Meskipun lahan tersebut masih miliknya, pria empat anak itu mengaku tidak kuat untuk kembali mengelolanya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved