Wapres Berbaju Adat Mandar
MAKNA Baju Adat Mandar yang Dipakai Wapres Ma'ruf Amin, Punya Nilai Filosofis Tinggi
Sedangkan, Songkok Bone (Sokko Biring) warna hitam dengan pinggiran emas yang cukup lebar juga melambangkan ketokohan atau seorang pemimpin.
Penulis: Nasiha | Editor: Ilham Mulyawan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Wapres-Maruf-Amin-menggunakan-baju-adat-mandar.jpg)
"Menurut kita di Mandar, kalau memakai jas tutup, sarung harus diikat lalu disamping ada badik, tapi saya lihat tidak," ungkapnya.
Sementara itu, Wapres Ma'ruf Amin melalui akun media sosial Instagram (IG) miliknya @kyai_marufamin menyebutkan bahwa pakaian adat pria suku mandar, dengan kain sarung tenun merah sebagai ikat pinggang, serta songkok tabone memang terlihat sederhana.
"Pakaian ini mempunyai nilai filosofis, bahwa pria Mandar harus gesit dan cekatan dalam bekerja," demikian pernyataan wapres di akun IG miliknya.
Berlandaskan Filosofi
Suku Mandar di Sulawesi Barat memiliki ragam pakaian adat dengan corak dan juga desain khusus yang berlandaskan pada sebuah filosofi.
Namanya Pattuqduq Towaine.
Baju ini mencerminkan busana yang digunakan oleh perempuan Mandar pada umumnya.
Kerap digunakan pada pernikahan adat maupun untuk busana tari Pattiqtuq.
Ornamen pelengkap baju ini jumlahnya cukup banyak menyesuaikan acara yang sedang dibawakan.
Untuk busana yang dipakai oleh perempuan mandar pada umumnya.
Puttuqduq terdiri dari Baju Rawang Boko atau bisa juga Baju Pokkoq,
Kemudian Lipaq Saqbe Mandar,
Lalu Lipaq Aqdi Diratte, Lipaq Aqdi Diratte Duattodong,
Dan terakhir hiasan kepala, badan dan tangan yang mencerminkan budaya Mandar.
Lipaq Saqbe, sarung dengan motif tenun khas Mandar sebagai bawahan.