Saatnya Beralih ke Wadah Pelepah Pinang, Lebih Sehat dan Ramah Lingkungan Ketimbang Styrofoam
Namun tahukah Anda, bahwa styrofoam berpotensi menyebabkan masalah lingkungan dan kesehatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Salah-satu-wadah-berbahan-pelepah-pinang-dari-PlepahDok-PlepahFadhlan-Makarim.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM - Saatnya Beralih ke Wadah Pelepah Pinang, Lebih Sehat dan Ramah Lingkungan Ketimbang Styrofoam
Tak sedikit pengusaha kuliner menggunakan styrofoam sebagai wadah makanan ketika ada konsumen yang memesan untuk take away atau dibawa pulang.
Namun tahukah Anda, bahwa styrofoam berpotensi menyebabkan masalah lingkungan dan kesehatan.
Tempat makan styrofoam dapat melepaskan toksin styrene ketika terpapar panas.
Baca juga: Penerimaan Siswa Baru di Mamasa Gunakan Sistem Zonasi, Begini Penjelasan Kadisdikbud
Baca juga: Dua Pasien Covid-19 Sembuh, Ini Upaya Satgas Cegah Penularan Covid-19 di Kabupaten Mamasa
Kemudian,
Semakin lama makanan disimpan menggunakan wadah styrofoam, semakin banyak jumlah zat yang dapat berpindah ke makanan.
Zat Styrene diduga merupakan zat yang dapat memicu kanker, baik pada hewan maupun pada manusia.
Paparannya juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, saluran napas atas, dan pencernaan.
Menyebabkan sakit kepala, kelemahan, gangguan fungsi ginjal, dan gangguan pendengaran.
Dapat pula menyebabkan gangguan kesehatan pada saluran pernapasan seperti mengi, sesak napas, mual, asma, dan bronkitis.
Namun komunitas bernama Plepah membuat wadah berbahan pelepah pinang yang dinilai ramah lingkungan.
Pelepah merupakan sebuah limbah yang tergolong tidak bernilai jika dibandingkan dengan buah pinang.
Pohon pinang kerap digunakan sebagai tanaman pembatas di perkebunan karet dan kelapa sawit.
Namun jika diolah dengan tepat, pelepah pinang dapat berubah menjadi wadah makanan tahan panas, tahan air, dan tahan minyak.