Penerimaan Siswa Baru di Mamasa Gunakan Sistem Zonasi, Begini Penjelasan Kadisdikbud

Sistem zonasi ini dimaksudkan, agar tidak ada ketimpangan yang terjadi antara sekolah yang satu dan sekolah yang lain.

Penulis: Semuel Mesakaraeng | Editor: Hasrul Rusdi
TribunSulbar.com/Semuel Mesakaraeng
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Mamasa, Muh Syukur 

 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMASA - Sejumlah sekolah di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), mulai melakukan penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 2021 dan 2022.

Penerimaan siswa baru di Kabupaten Mamasa, masih mengacu pada Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019.

Dimana setiap daerah, penerimaan siswa baru berdasarkan zona tempat tinggal.

Baca juga: Polwan Kawal Pelaksanaan Vaksinasi Lansia di Majene

Baca juga: Ketua DPRD Sulbar Minta Masyarakat Ikut Awasi Penggunaan Dana Pinjaman PEN: Jumlahnya Ratusan Miliar

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Mamasa, Muh Syukur
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Mamasa, Muh Syukur (TribunSulbar.com/Semuel Mesakaraeng)

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Mamasa, Muh Syukur mengatakan, di Mamasa penerimaan siswa baru, SD dan SMP,  tetap menggunakan sistem zonasi.

Sistem zonasi ini dimaksudkan, agar tidak ada ketimpangan yang terjadi antara sekolah yang satu dan sekolah yang lain.

Meski begitu, sistem zonasi di Mamasa, menurut Syukur pemetaannya tidak begitu rumit.

Alasannya, karena di Mamasa, pada umumnya sekolah masih membutuhkan peserta didik.

"Beda dengan di kota, zonasi di kota dilalukan agar semua sekolah mendapat jatah anak sekolah," ungkap Muh Syukur, Selasa (8/6/2021).

Terkait sistem zonasi, Bupati Mamasa telah mengeluarkan peraturan bupati sejak dua tahun ajaran baru.

Baca juga: Dua Pasien Covid-19 Sembuh, Ini Upaya Satgas Cegah Penularan Covid-19 di Kabupaten Mamasa

Baca juga: Kursi DPRD Mamasa Terancam Berkurang, Jumlah Penduduk Kurang dari 200 Ribu

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa, Hajai S. Tanga
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa, Hajai S. Tanga (TribunSulbar.com/Semuel Mesakaraeng)

"Misalnya orang yang di Tabang, tidak mungkin mau ke Tabulahan, tidak mungkin orang Nosu mau ke Arale," tutur Syukur.

Dengan demikian, sistem zonasi ini terbentuk sesuai letak geografis daerah.

Untuk itu, lanjut Syukur, masing-masing sekolah di setiap desa dan kecamatan masih tetap terpenuhi.

Dengan metode ini, setiap siswa di masing-masing sekolah, tidak begitu membeludak.

"Makna zonasi ini kan membatasi siswa berkelebihan di satu sekolah," pungkasnya.  

 

Laporan wartawan @sammy_rexta

 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved