Rabu, 3 Juni 2026

Motor Listrik MBG

Warga Pasangkayu Soroti Pengadaan Motor Listrik MBG, Sebut Infrastruktur Jalan Lebih Mendesak

Program tersebut mencakup rencana pengadaan puluhan ribu motor listrik untuk mendukung operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Tayang:
Penulis: Taufan | Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Warga Pasangkayu Soroti Pengadaan Motor Listrik MBG, Sebut Infrastruktur Jalan Lebih Mendesak
Tribun-Sulbar.com/Taufan
MOTOR MBG-Risal, seorang warga di Kabupaten Pasangkayu menyampaikan keluhan terkait kondisi jalan desa dan perkebunan yang rusak saat ditemui di sebuah warung kopi. Ia berharap pemerintah lebih memprioritaskan perbaikan infrastruktur dibanding pengadaan motor listrik untuk operasional program MBG. 

Ringkasan Berita:
  • Warga Pasangkayu menilai pengadaan motor listrik MBG belum menjadi prioritas.
  • Infrastruktur jalan desa dan perkebunan disebut lebih mendesak.
  • Kerusakan jalan berdampak pada biaya distribusi dan pendapatan petani.

 

TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Badan Gizi Nasional (BGN) terus berjalan.

Program tersebut mencakup rencana pengadaan puluhan ribu motor listrik untuk mendukung operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Secara nasional, sebanyak 25.644 unit motor listrik direncanakan.

Baca juga: Pengendara Motor Listrik Lawan Arah Viral di Media Sosial, Nitizen: Polisi Kemana Saja?

Baca juga: Hanya 8 Dapur Makan Bergizi Gratis di Mamuju Punya Sertifikat Layak

Dari jumlah tersebut, 21.801 unit telah direalisasikan.

Namun, kebijakan ini menuai sorotan dari masyarakat di Kabupaten Pasangkayu.

Sejumlah warga menilai pengadaan motor listrik belum menjadi kebutuhan paling mendesak di daerah.

Mereka membandingkannya dengan kondisi infrastruktur dasar yang masih memprihatinkan.

Infrastruktur Jalan Dinilai Lebih Prioritas

Seorang warga, Risal, mengatakan masyarakat tidak menolak program MBG.

Namun, menurutnya, perbaikan jalan desa dan jalan perkebunan lebih dibutuhkan saat ini.

“Kami tidak menolak program MBG, tapi yang lebih dibutuhkan saat ini adalah perbaikan jalan desa dan jalan perkebunan,” ujarnya saat ditemui di Pasangkayu, Kamis (16/4/2026).

Ia menjelaskan, kerusakan jalan di wilayah perkebunan berdampak langsung pada aktivitas petani.

Distribusi hasil panen menjadi tidak efisien dan biaya operasional meningkat.

Dalam beberapa kasus, petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melangsir hasil panen menggunakan jasa ojek motor.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved