Minggu, 31 Mei 2026

Petani Sawit

Harga Sawit Naik, Petani di Pasangkayu Akhirnya Panen Lagi

Sejumlah petani yang sebelumnya menahan panen kini mulai membawa hasil kebunnya ke timbangan untuk dijual.

Tayang:
Penulis: Taufan | Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Harga Sawit Naik, Petani di Pasangkayu Akhirnya Panen Lagi
Taufan/Taufan
PETANI KEMBALI PANEN-Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit hasil panen petani di Desa Kasoloang, Kecamatan Bambaira, Kabupaten Pasangkayu. Kenaikan harga sawit yang kini mencapai hingga Rp1.850 per kilogram di tingkat pengepul membuat petani kembali bersemangat memanen hasil kebunnya setelah sebelumnya menunda panen selama hampir satu bulan akibat harga yang rendah. (*) 

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Pasangkayu membuat petani kembali bersemangat memanen setelah sebelumnya sempat menahan panen saat harga anjlok.
  • Petani di Desa Kasoloang, Bambaira, mengaku kini kembali memanen karena harga sudah naik dari sekitar Rp900 menjadi di atas Rp1.600 per kilogram.
  • Kenaikan harga ini dinilai sangat membantu ekonomi petani dan diharapkan dapat terus stabil agar tidak kembali merugikan masyarakat.

 

TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Pasangkayu disambut gembira oleh para petani. Setelah sempat terpuruk hingga berada di kisaran Rp900 per kilogram, harga sawit yang kini mulai merangkak naik membuat petani kembali bersemangat memanen hasil kebunnya.

Salah satu petani sawit di Desa Kasoloang, Kecamatan Bambaira, Kabupaten Pasangkayu, Aswat, mengaku sangat bersyukur dengan membaiknya harga sawit dalam beberapa hari terakhir.

Saat ditemui di kebunnya, Sabtu (30/5/2026), Aswat mengatakan dirinya akhirnya kembali melakukan panen setelah hampir empat pekan sengaja menunda memanen buah sawit miliknya.

Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 9 Halaman 80, Bab Komunikasi Ujung Jar

Baca juga: Agresif dan Resahkan Warga, Anjing Liar di Kelurahan Darma Polman Terpaksa Dilumpuhkan Damkar

Menurutnya, saat harga berada di level rendah, hasil penjualan buah sawit tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk panen dan pengangkutan.

"Alhamdulillah sekarang sudah mulai naik. Saya sudah panen lagi karena sebelumnya hampir satu bulan saya tahan. Waktu harga masih sekitar Rp900 per kilogram, rasanya rugi kalau dipanen," kata Aswat.

Ia menjelaskan, dalam kondisi normal kebunnya dipanen setiap dua pekan sekali. Namun akibat anjloknya harga sawit beberapa waktu lalu, jadwal panen terpaksa ditunda karena dinilai tidak menguntungkan.

Akibat penundaan tersebut, buah sawit di kebunnya sempat menumpuk dan banyak tandan yang sudah matang menunggu untuk dipanen.

"Biasanya dua minggu sekali panen. Tapi karena harga turun terus waktu itu, saya tahan dulu. Sekarang setelah harga naik, baru mulai dipanen kembali," ujarnya.

Aswat mengaku kenaikan harga ini memberikan harapan baru bagi petani sawit yang selama beberapa pekan terakhir menghadapi kondisi sulit akibat rendahnya nilai jual hasil panen.

Menurutnya, sebagian besar petani di wilayah Bambaira sangat bergantung pada sektor perkebunan sawit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Karena itu, setiap perubahan harga sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi keluarga petani.

"Kalau harga bagus, tentu petani senang karena hasil panen bisa dipakai untuk kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah anak, dan keperluan lainnya. Waktu harga turun kemarin, banyak petani yang mengeluh," tuturnya.

Ia berharap tren kenaikan harga sawit dapat terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan sehingga petani bisa kembali menikmati hasil kebun yang layak.

Aswat juga berharap harga sawit tidak lagi mengalami penurunan drastis seperti yang terjadi sebelumnya karena sangat berdampak terhadap pendapatan petani.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved