Sabtu, 2 Mei 2026

Anak Putus Sekolah

Anak Putus Sekolah di Pasangkayu Tembus 7.117 Kasus pada 2025, Melonjak Tajam

Ia mengungkapkan, pada tahun 2024 jumlah anak putus sekolah tercatat sebanyak 2.014 anak.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Taufan | Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Anak Putus Sekolah di Pasangkayu Tembus 7.117 Kasus pada 2025, Melonjak Tajam
Tribun-Sulbar.com
ANGKA PUTUS SEKOLAH - Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasangkayu, Henrik, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (24/4/2026). Ia mengungkapkan angka anak putus sekolah di Pasangkayu meningkat signifikan pada 2025, dari 2.014 kasus pada 2024 menjadi 7.117 kasus. 

Ringkasan Berita:
  • Angka anak putus sekolah di Pasangkayu naik signifikan menjadi 7.117 kasus pada 2025.
  • Tahun sebelumnya, jumlah putus sekolah tercatat 5.272 anak pada 2024, artinya naik sebanyak 2.014.
  • Faktor ekonomi dan rendahnya minat belajar jadi penyebab utama.

 

TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Angka anak putus sekolah di Kabupaten Pasangkayu mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.

Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Pasangkayu, Henrik, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (24/4/2026).

Ia mengungkapkan, pada tahun 2024 jumlah anak putus sekolah tercatat sebanyak 5.272 anak.

Baca juga: 1.244 Siswa di Pasangkayu Terima Bantuan Pendidikan, Program Penurunan Anak Putus Sekolah Diperluas

Baca juga: Gubernur SDK Minta Program Intervensi Anak Putus Sekolah Lebih Tepat Sasaran

Namun, pada tahun 2025 angka tersebut melonjak menjadi 7.117 anak.

Meningkat sebanyak 2.014 

Henrik menjelaskan, berbagai upaya telah dilakukan pihaknya untuk mengembalikan anak-anak yang putus sekolah agar kembali mendapatkan akses pendidikan.

Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), di antaranya Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Keluarga Berencana (KB), Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), hingga Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida).

“Dinas Sosial juga meminta data dari sekolah untuk diverifikasi dengan data yang ada di desa,” ujar Henrik.

Pendataan Menyeluruh hingga Lembaga Nonformal

Ia menambahkan, pendataan dilakukan secara menyeluruh mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA, termasuk lembaga pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Menurutnya, pemerintah tidak hanya sebatas mendata, tetapi juga berupaya mengembalikan anak-anak tersebut ke bangku pendidikan.

“Jika anak tersebut masih ingin sekolah, kami akan upayakan masuk ke sekolah formal sesuai domisilinya. Namun jika memilih jalur nonformal, menjadi tugas PKBM untuk memberikan pembelajaran,” jelasnya.

Henrik juga mengungkapkan sejumlah faktor penyebab meningkatnya angka putus sekolah di Pasangkayu. Faktor ekonomi menjadi penyebab dominan.

Ia menyebut kasus banyak terjadi pada jenjang SMP, ketika anak mulai membantu orang tua mencari nafkah.

Selain itu, rendahnya minat belajar juga turut menjadi faktor penyebab.

“Kami juga akan terus memberikan motivasi kepada anak-anak agar mau kembali bersekolah,” pungkasnya. (*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com, Taufan

Sumber: Tribun sulbar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved