Jumat, 22 Mei 2026

Opini

Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat

Ketika sekolah diperbaiki, sejatinya negara sedang menegakkan kembali martabat anak-anak bangsa.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat
OPINI - Furqan Mawardi, Wakil rektor I Universitas Muhammadiyah Mamuju menulis opini tentang mewujudkan generasi yang unggul dan berkualitas, maka kita perlu menanamkan kebiasaan-kebiasaan positif sejak dini
Furqan Mawardi for Tribun sulbar 

Oleh: Furqan Mawardi
(Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju)

Ketika seorang anak melangkah ke sekolah dengan sepatu lusuh, harapannya sederhana, ia ingin belajar, ingin cerdas, ingin berguna.

Namun, bagaimana mungkin mimpi itu tumbuh jika ia harus duduk di kursi rusak, reyot, menulis di meja yang miring, atau belajar di ruang kelas yang atapnya bocor?

Sekolah yang tidak layak pada akhirnya bukan hanya meruntuhkan bangunan, melainkan meruntuhkan martabat pendidikan itu sendiri.

Program Revitalisasi Sekolah yang tengah digulirkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi adalah jawaban atas jeritan panjang itu.

Dengan anggaran triliunan rupiah dan target puluhan ribu satuan pendidikan, negara sedang berusaha menghadirkan ruang belajar yang manusiawi.

Sekolah bukan sekadar tembok dan lantai, tetapi fondasi bagi peradaban.

Ketika sekolah diperbaiki, sejatinya negara sedang menegakkan kembali martabat anak-anak bangsa.

Namun, revitalisasi tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. 

Filsuf pendidikan Paulo Freire pernah mengingatkan, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.

Maka, ruang kelas yang indah hanya akan bermakna jika di dalamnya tumbuh interaksi yang sehat antara guru dan murid, antara ilmu dan akhlak, antara pengetahuan dan kearifan.

Gedung yang kokoh harus bersanding dengan kurikulum yang hidup, guru yang sejahtera, serta budaya sekolah yang menumbuhkan rasa percaya diri anak.

Ki Hajar Dewantara jauh-jauh hari telah menekankan, “Tempat bergantungnya harapan dan cita-cita anak-anak bukan semata pada pengajaran, tetapi juga pada lingkungan pendidikan yang mendukung.”

Artinya, gedung sekolah yang layak adalah bagian dari “pamong” itu sendiri.

Anak-anak tidak hanya dididik oleh guru, melainkan juga oleh suasana kelas, tata ruang, bahkan halaman sekolah yang teduh. 

Revitalisasi sekolah sejatinya adalah menghadirkan “taman belajar” sebagaimana dicita-citakan oleh Bapak Pendidikan Nasional kita.

Nurcholish Madjid pernah mengingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak bisa dilepaskan dari kualitas sumber daya manusianya. 

SDM unggul hanya mungkin lahir dari pendidikan yang berkualitas, dan kualitas itu bertumpu pada ekosistem belajar yang sehat. 

Maka, revitalisasi sekolah jangan dipandang semata proyek pembangunan, melainkan investasi strategis dalam peradaban bangsa.

Setiap bata yang dipasang, setiap atap yang diperbaiki, sesungguhnya adalah pondasi bagi Indonesia yang berdaya di masa depan.

Menteri Pendidikan pertama RI, Mr. Soewandi, bahkan menyebut sekolah sebagai “jendela bangsa untuk melihat dunia.”

Jendela itu akan buram bila kacanya retak, kusam, atau tidak terawat. Sama halnya dengan sekolah yang reyot, ia tidak lagi mampu menjadi jendela yang memperlihatkan cahaya masa depan.

Revitalisasi sekolah adalah ikhtiar membersihkan kaca jendela itu, agar anak-anak kita bisa menatap luasnya dunia dengan percaya diri.

Di sinilah letak tantangan besar kita. Banyak sekolah, terutama di daerah 3T, masih berjuang dengan keterbatasan akses listrik, internet, bahkan guru tetap.

Maka revitalisasi sejati harus berwajah ganda: membangun infrastruktur sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan.

Tanpa itu, sekolah hanya akan berubah rupa, tetapi tidak berubah makna.

Pendidikan yang bermartabat lahir dari sekolah yang layak. Sekolah yang tidak hanya berdiri megah, tetapi juga memberi ruang bagi anak-anak untuk bermimpi besar.

Sekolah yang membuat guru merasa dihargai, dan orang tua merasa bangga menitipkan masa depan anaknya.

Karena sesungguhnya, setiap gedung sekolah yang diperbaiki adalah janji negara kepada rakyatnya. 

Bahwa pendidikan bukan sekadar slogan, melainkan jalan menuju peradaban yang lebih mulia.

Sebagaimana diingatkan Tan Malaka, pendidikan adalah “senjata paling ampuh untuk memperjuangkan kemerdekaan sejati.”

Jika sekolah dibiarkan dalam keadaan rusak, maka senjata itu menjadi tumpul.

Revitalisasi sekolah adalah cara untuk kembali menajamkan senjata bangsa, agar generasi muda mampu menghadapi tantangan global dengan kepala tegak.

Akhirnya, kita harus memahami bahwa revitalisasi sekolah bukan sekadar program lima tahun, melainkan gerakan jangka panjang. Gerakan yang menuntut keterlibatan semua pihakh.

Mulai pemerintah, guru, orang tua, perguruan tinggi, hingga masyarakat luas. Karena menghidupkan sekolah berarti menghidupkan martabat bangsa. 

Dan ketika sekolah-sekolah kita menjadi ruang yang layak, aman, dan membahagiakan, di sanalah lahir sebuah pendidikan yang benar-benar bermartabat dan sebagai tempat menyemai bibit-bibit terbaik penerus masa depan bangsa dan semesta.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved