Selasa, 9 Juni 2026

3 Santri Diduga Dibakar Seniornya, Satu Orang Meninggal Dunia

Foto kondisi korban yang beredar di media sosial memicu perhatian publik dan mendorong pengungkapan kasus tersebut.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto 3 Santri Diduga Dibakar Seniornya, Satu Orang Meninggal Dunia
Istimewa/istimewa
Kondisi korban yang viral di media sosial mengungkap dugaan kasus kekerasan terhadap santri di Lombok Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • Kasus dugaan pembakaran santri di Ponpes Lombok Tengah mencuat setelah kondisi korban viral di media sosial.
  • Tiga santri menjadi korban, satu meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka bakar berat.
  • Salah satu korban mengaku dibakar secara sengaja dan keluarganya kini berutang untuk biaya pengobatan.

 

TRIBUN-SULBAR.COM- Kasus dugaan kekerasan berat di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi sorotan setelah kondisi salah satu korban viral di media sosial.

Peristiwa yang diduga terjadi pada November 2025 itu melibatkan tiga santri. Satu korban meninggal dunia, sementara dua lainnya mengalami luka bakar serius dan harus menjalani perawatan.

Salah satu korban, Sahid Al Hudri (13), disebut mengalami luka bakar hingga 80 persen di tubuhnya.

Foto kondisi korban yang beredar di media sosial memicu perhatian publik dan mendorong pengungkapan kasus tersebut.

Baca juga: Usai Ditangkap, Pelaku Pembunuhan Istri di Mateng Jalani Pemeriksaan Kejiwaan

Baca juga: Dikejar 50 Polisi dan Anjing Pelacak, Suami Bunuh Istri dan Lukai Anak di Mateng Akhirnya Ditangkap

Sahid mengaku kejadian itu bukan kecelakaan.

Menurut pengakuannya, saat itu ia bersama dua rekannya berada di dalam sebuah ruangan sebelum seseorang diduga menyiramkan bahan bakar.

Api kemudian muncul dan membuat mereka terjebak.

“Terjebak kita bertiga, orang yang ngebakar bisa dia keluar,” ujar Sahid.

Korban juga menyebut dugaan aksi tersebut berkaitan dengan persoalan yang sebelumnya terjadi di lingkungan pondok.

Akibat kejadian itu, satu korban dilaporkan meninggal dunia.

Di sisi lain, keluarga korban kini menghadapi beban biaya pengobatan yang besar.

Bibi korban, Nurul Hidayah, mengatakan keluarga terpaksa mencari pinjaman untuk membiayai perawatan.

Menurut dia, biaya pengobatan sudah mencapai puluhan juta rupiah.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, mengatakan pihaknya baru mengetahui kasus tersebut setelah informasi korban ramai diperbincangkan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved