Kamis, 14 Mei 2026

Siap-siap Harga Pangan Naik Terus Imbas Rupiah Melemah Terhadap Dolar Rp17.500

Contohnya saja, Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari sehingga pelemahan rupiah otomatis meningkatkan biaya subsidi

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Siap-siap Harga Pangan Naik Terus Imbas Rupiah Melemah Terhadap Dolar Rp17.500
Tribun-Sulbar.com/Suandi
HARGA BAPOK - Pedagang yang menjual di Pasar Baru Mamuju, Selasa (24/3/2026). Memasuki hari ketiga (H+3) pasca-Lebaran Idul Fitri, harga sejumlah komoditas bahan pokok di Pasar Baru Mamuju, Sulawesi Barat, terpantau belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. 
Ringkasan Berita:Efek Domino Kenaikan Harga (Imported Inflation)
1. Pelemahan Rupiah otomatis menaikkan harga komoditas yang masih bergantung pada impor:
2. Pangan: Harga gandum dan kedelai naik, berdampak pada harga mi instan, roti, tahu, dan tempe.
3. Energi: Indonesia mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari; pelemahan kurs meningkatkan biaya subsidi BBM dan LPG.
4. Industri & Kesehatan: Kenaikan harga bahan baku industri dan bahan baku obat-obatan

 


TRIBUN-SULBAR.COM - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.500 per dollar AS mulai menekan daya beli kelompok menengah dan bawah.

Rupiah yang melemah terhadap dolar akan berdampak terhadap kenaikan harga pangan, energi, hingga biaya transportasi. 

Penyebabnya, Indonesia masih bergantung pada impor pangan, energi, dan bahan baku industri. 

Baca juga: DAFTAR Harga TBS Sawit Sulbar Mei 2026 Usia Tanam 3 Hingga 25 Tahun Ditetapkan Dinas Perkebunan

Baca juga: BPKAD Antar Pemprov Sulbar Raih Penghargaan DAK Fisik Terbaik Tingkat KPPN 

Kondisi tersebut berbahaya karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari 53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). 

"Artinya, ketika daya beli masyarakat melemah, pertumbuhan ekonomi juga ikut terancam melambat," ujar Rizal.

Kelompok menengah dan bawah menjadi yang paling rentan karena sebagian besar pengeluaran rumah tangga masih didominasi kebutuhan pokok, sementara biaya transportasi, cicilan, dan utilitas terus meningkat di tengah pendapatan riil yang tidak tumbuh secepat inflasi

“Risiko inflasi besar karena rupiah melemah memicu kenaikan Harga BBM, LPG, pangan impor, obat-obatan, dan bahan baku industri,” katanya. 

Contohnya saja, Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari sehingga pelemahan rupiah otomatis meningkatkan biaya subsidi energi sekaligus ongkos produksi domestik. 

Mengingat pembelian barang impor menggunakan dolar sebagai alat pembayaran.

Rizal menilai pemerintah perlu memperkuat cadangan devisa, mengoptimalkan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA), menjaga disiplin fiskal, serta mempercepat reformasi sektor riil dan substitusi impor. 

Apalagi Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku pangan tertentu seperti gandum dan kedelai. 

Akibatnya, pelemahan rupiah akan mendorong kenaikan harga mi instan, roti, tahu, dan tempe. 

Sehingga jika rupiah terus melemah menuju Rp 18.000 per dollar AS, risiko akan semakin besar dan dapat memicu lonjakan inflasi secara lebih luas. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul https://money.kompas.com/read/2026/05/13/143953226/dampak-rupiah-rp-17500-kelas-menengah-bawah-mulai-terjepit-harga-pangan-dan?page=all#page2

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved