Senin, 13 April 2026

Efek Perang Timur Tengah

Efek Perang Timur Tengah, Harga Bibit dan Pestisida di Mamuju Meroket

Kondisi tersebut membuat para petani lokal semakin terjepit di tengah biaya modal yang meningkat.

Tayang:
Penulis: Suandi | Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Efek Perang Timur Tengah, Harga Bibit dan Pestisida di Mamuju Meroket
Tribun-Sulbar.com/Suandi
HARGA NAIK - Toko tani milik Sarif di Desa Pokkang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Rabu (8/4/2026). Badai kenaikan harga barang pokok kini mulai merambah ke sektor pertanian di wilayah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. 
Ringkasan Berita:
  • Harga saprotan di Mamuju, seperti pestisida dan bibit jagung, mengalami kenaikan signifikan.
  • Kenaikan dipicu gangguan rantai pasok global akibat ketegangan di Timur Tengah.
  • Petani tertekan karena biaya produksi naik, sementara harga hasil panen tidak ikut meningkat.

 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU – Badai kenaikan harga barang kini mulai merambah sektor pertanian di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Tak hanya komoditas rumah tangga, harga sarana produksi pertanian (saprotan) seperti bibit jagung hingga pestisida mengalami kenaikan signifikan.

Fenomena ini disinyalir merupakan dampak domino dari ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok global, termasuk bahan baku kimia dan distribusi logistik internasional.

Baca juga: Gencatan Senjata Dua Pekan, Ini 10 Poin Penting Proposal Iran Disetujui Presiden AS Donald Trump

Baca juga: Sidang Kasus Penembakan Husain di Campalagian Polman, Jaksa Hadirkan 12 Saksi

Kondisi tersebut membuat para petani lokal semakin terjepit di tengah biaya modal yang meningkat.

Keluhan ini salah satunya disampaikan Sarif, pemilik kios sarana pertanian di Desa Pokkang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju.

Ia mengungkapkan, tren kenaikan harga sudah terasa sejak sebelum memasuki bulan Ramadan.

"Kenaikan harga sudah terasa sangat signifikan. Ini sangat membebani karena terjadi pada barang-barang yang sangat dibutuhkan petani setiap musim tanam," ujar Sarif saat ditemui di salah satu warung kopi di Mamuju, Rabu (8/4/2026).

Harga Saprotan Naik, Petani Tertekan

Ia merinci, harga pestisida atau racun rumput mengalami kenaikan sekitar Rp5.000 hingga Rp15.000 per botol.

Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp65.000 kini naik menjadi Rp70.000 hingga Rp80.000.

Bibit jagung juga mengalami lonjakan harga dari Rp150.000 menjadi Rp165.000 per kemasan.

Sarif menambahkan, kenaikan biaya produksi ini tidak diikuti dengan kenaikan harga jual hasil panen di tingkat petani.

Ketimpangan tersebut membuat petani di wilayah Kalukku mulai kesulitan menutupi biaya operasional.

"Ini akan berdampak langsung pada petani. Mereka pasti kewalahan karena modalnya naik, sementara harga hasil pertanian tidak ikut naik," tutur Sarif.

Dampak nyata dari kondisi ini adalah menurunnya daya beli petani secara signifikan. (*)

Sumber: Tribun sulbar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved