UT Majene
Devi Ayuni, Perempuan Memimpin Dunia Akademisi Menakar Peluang dan Meruntuhkan Hambatan
Baginya, amanah sebagai pimpinan di bidang akademik bukanlah perkara mudah. Perjalanan karirnya dimulai dari dedikasi sebagai dosen
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/devi-ayuni-tampil-narsum-utama.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM, MAJENE – Isu Pengarusutamaan Gender (PUG) menjadi topik sentral dalam Dialog Interaktif yang digelar pada Senin (05/01/2026).
Diskusi yang dipandu oleh host Nita Wahyuni ini menghadirkan sosok inspiratif, Devi Ayuni, S.E., M.Si., yang saat ini menjabat sebagai Direktur Universitas Terbuka (UT) Majene.
Dialog ini mengupas tuntas realitas perempuan yang menduduki posisi strategis di dunia akademik, mulai dari tantangan manajerial hingga pentingnya akses pendidikan yang setara bagi semua gender.
Baca juga: Abrasi Kian Parah, Rumah Warga Mes Pambutungang Mamuju Tengah Terancam Hilang
Baca juga: Muatan Rancangan RTRW Sulbar Kembali Dibahas di Tingkat Nasional, Tegaskan Tata Ruang Berkualitas
Dalam diskusi tersebut, terungkap fakta menarik bahwa Devi Ayuni merupakan satu-satunya Direktur perempuan di lingkup Universitas Terbuka yang ada di wilayah Indonesia Timur saat ini.
Baginya, amanah sebagai pimpinan di bidang akademik bukanlah perkara mudah. Perjalanan karirnya dimulai dari dedikasi sebagai dosen yang menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, hingga kini harus memikul tanggung jawab manajerial yang kompleks.
"Sebagai Direktur, tugas saya bukan lagi sekadar mengajar, tetapi memastikan seluruh pelayanan mahasiswa berjalan prima, mulai dari tahap registrasi hingga wisuda," ujar Devi Ayuni.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan perempuan di dunia akademisi justru mengedepankan perspektif yang lebih terbuka dan inklusif dalam mengambil kebijakan-kebijakan pokok terkait pendidikan.
Meritokrasi dan Kesetaraan
Menjawab pertanyaan Nita Wahyuni mengenai perlakuan gender di institusi, Devi menegaskan bahwa UT merupakan institusi yang sangat menghargai meritokrasi.
Di UT, tidak terdapat perbedaan perlakuan antara pimpinan laki-laki maupun perempuan. Semua hak dan kewajiban diberikan secara setara berdasarkan kemampuan dan kinerja.
"Siapapun boleh menjadi pimpinan di UT, baik di tingkat Manajer, Kepala Bidang, Direktur, Kaprodi, Dekan, hingga Rektor. Pintu terbuka lebar bagi siapa saja yang memiliki kompetensi," tegasnya.
Hal ini selaras dengan profil mahasiswa UT yang didominasi oleh perempuan sebesar 67 persen.
Dengan komposisi tersebut, pemenuhan hak dasar pendidikan bagi perempuan menjadi prioritas utama bagi UT.
Meruntuhkan Stigma
Meski peluang terbuka, Devi tidak menampik adanya hambatan sosial. Ia mengakui bahwa perempuan sering kali dianggap kurang kompeten untuk menduduki jabatan penting dan dianggap lebih cocok di posisi administrasi.
Namun, bagi Devi, stigma tersebut justru menjadi pemacu semangat.
"Hambatan itu tidak berpengaruh signifikan jika kita terus membuktikan kualitas kerja. Setiap pengalaman adalah tempaan yang membuat kita jauh lebih kompeten dari sebelumnya," tambahnya.
| Meriah! 24 Tim SMA dan SMK se-Sulbar Ikuti Turnamen Voli UT Majene Cup I 2026 |
|
|---|
| RTM Universitas Terbuka di Surabaya UT Majene Perkuat Komitmen Mutu Pendidikan Tinggi |
|
|---|
| Siapkan Tutor Kompeten UT Majene Pertajam Kualitas SDM Lewat Pembekalan Daring |
|
|---|
| Tingkatkan Kualitas Tutor UT Majene Dapat Pembekalan 2 Pakar Nasional Selama 3 Hari |
|
|---|
| UT Majene Dorong Kemandirian Ekonomi Desa Palipi Soreang Lewat Sinergi BUMDES dan Peternakan Rakyat |
|
|---|