Minggu, 19 April 2026

Gaya Hidup

Bahaya Fenomena Flexing pada Anak Muda, Bukan Sekadar Pamer, Tapi Masalah Psikologis

Oleh karena itu, tugas utama orang tua bukanlah melarang anak, melainkan membekali mereka dengan mental yang kuat.

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Bahaya Fenomena Flexing pada Anak Muda, Bukan Sekadar Pamer, Tapi Masalah Psikologis
AI Gemini
ILUSTRASI AI GEMINI- Fenomena flexing memamerkan kekayaan dan gaya hidup mewah di media sosial kini menjadi tren yang tak hanya dilakukan oleh selebriti, tetapi juga merambah ke kalangan masyarakat umum, terutama anak muda. 


TRIBUN-SULBAR.COM- Fenomena flexing memamerkan kekayaan dan gaya hidup mewah di media sosial kini menjadi tren yang tak hanya dilakukan oleh selebriti, tetapi juga merambah ke kalangan masyarakat umum, terutama anak muda. 

Menurut psikolog Yasinta Indrianti, dampak flexing tidak bisa dianggap remeh, terutama bagi mereka yang belum memiliki konsep diri yang matang.

Yasinta menjelaskan bahwa bagi mereka yang tidak mampu, flexing dapat menciptakan konsep diri yang menyimpang.

Baca juga: Sosok Hijrah Karyawan Koperasi PNM Ditemukan Tewas di Kebun, Dikenal Rajin & Hidup Bersama Neneknya

Baca juga: Polisi Selidiki Kasus Tewasnya Karyawan Koperasi PNM di Kebun Kelapa di Pasangkayu

Mereka merasa kebahagiaan dan rasa syukur hanya bisa didapat jika memiliki materi yang dipamerkan di media sosial. 

Pola pikir ini menuntut mereka untuk "ada apanya dulu baru bisa bersyukur," bukan sebaliknya. 

Hal ini diperparah dengan mentalitas "serba instan" yang mendominasi generasi saat ini, membuat mereka lebih fokus pada pencapaian fisik dan materi.

Yasinta menegaskan bahwa flexing adalah bagian dari realitas digital yang tidak bisa dihilangkan. 

Bahkan, bagi sebagian orang, flexing menjadi sumber rezeki.

Oleh karena itu, tugas utama orang tua bukanlah melarang anak, melainkan membekali mereka dengan mental yang kuat.

Orang tua harus mengajarkan anak-anak untuk, menyikapi fenomena media sosial secara bijak,

Membuat validasi diri sendiri, dan membangun ketangguhan dari sisi internal, sehingga nilai diri mereka tidak bergantung pada apa yang dilihat atau dipamerkan orang lain di media sosial.

Menurut Yasinta, kebutuhan untuk "dilihat" memang merupakan kebutuhan dasar manusia. 

Namun, jika tidak disikapi dengan bijak, flexing bisa mengubah cara seseorang memaknai kebahagiaan dan nilai diri.

Pada akhirnya dapat menimbulkan masalah psikologis yang kompleks.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved