Opini
Youtube, Kebebasan Berekspresi atau Kebebasan Membenci?
Youtubers sendiri singkatnya merupakan seorang atau suatu kelompok yang menghasilkan konten yang dipublikasikan ke YouTube secara berkala.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Mahasiswa-STAIN-Majene-Muh-Tasrief.jpg)
Oleh : Muh Tasrief
Mahasiswa STAIN Majene
TRIBUN-SULBAR.COM, - Seiring dengan perkembangan teknologi Informasi dan Komunikasi yang memungkinkan antara satu orang dengan orang lain dapat bertukar pesan baik itu secara pesan berupa teks maupun pesan yang berupa audio visual nan interaktif yang saat ini telah banyak kita ketahui penyedia layanan video yang menjadi tempat para manusia modern dalam
berekspresi yakni layanan YouTube.
YouTube sendiri awalnya hanya sebagai platform bertukar video, akan tetapi dengan potensi atau peluang pasar yang menjanjikan untuk mendapatkan pundi-pundi dollar, YouTube telah menjadi tempat yang bukan hanya sebagai sarana berbagi momen lewat video belaka, dewasa ini sudah dimanfaatkan sebagai sumber daya ekonomi para pembuat konten atau pada platform YouTube, si pembuat konten dikenal sebagai seorang YouTubers.
Youtubers sendiri singkatnya merupakan seorang atau suatu kelompok yang menghasilkan konten yang dipublikasikan ke YouTube secara berkala dan melalui konten tersebut mendapatkan tanggapan yang berbeda dari konsumen, tentunya tanggapan tersebut bisa berupa apresiasi, saran, kritikan dan seringkali ditemui komentar miring atau komentar yang megandung unsur kebencian yang dilancarkan oleh haters untuk menjatuhkan pihak tertentu yang menurut saya ini merupakan ironi dari kebebasan berekspresi dari sosial media, khususnya YouTube.
Haters menjadi catatan negatif tersendiri dari kebebasan berekspresi di dunia online sekarang ini. Fenomena haters ini menggambarkan bahwa bagaimana manusia sudah tidak lagi menilai secara objektif namun makin kesini, saya melihat sesuatu tersebut dinilai dan disikapi sesuai apa yang mereka sukai atau benci. Sebagai contoh jika haters sudah tidak mennyukai sesuatu konten atau konten tersebut dianggap menyerang terhadap apa yang menjadi ketertarikan mereka atau dalam konteks ini YouTubers idola mereka, tak segan para haters ini akan melontarkan perkataan yang menyakiti dan menyerang secara verbal dan bahkan melakukan teror kepada pihak yang mereka tidak sukai.
Hal-hal diatas memberikan efek domino terhadap ekosistem pertukaran pesan yang ada di media sosial, dengan berseliwerannya haters atas dasar kebencian pada pihak tertentu, pandangan saya melihat bahwa yang awalnya satu opini buruk yang dilempar haters terhadap pihak atau konten kreator terkenal yang mempunyai penggemar atau pengikut yang banyak maka para penggemar ini juga akan terseret dalam arus kebencian ini dengan beropini yang bermaksud untuk saling menjatuhkan YouTubers favorit mereka melalui kekerasan verbal dan sebagai ajang untuk membuktikan bahwa YouTubers yang mereka idolakan lebih baik dari YouTubers yang mereka anggap sebagai lawan.
Fenomena haters ini bukannya dianggap sebagai suatu masalah, namun dianggap sebagai peluang karena dengan haters dipercaya mampu menaikkan pamor YouTubers yang bersangkutan. Konten kreator kerap kali malah memancing pengguna YouTube untuk melancarkan ujaran kebencian dengan menghasilkan konten diss terhadap YouTubers yang mereka anggap sebagai lawan dan juga peluang dan dengan konten tersebut dapat memancing opini publik untuk melancarkan ujaran kebencian.
Tidak dapat dipungkiri, dengan sangat terbuka lebarnya kesempatan untuk mengekspresikan sesuatu melalui perangkat digital semakin "memudahkan" manusiauntuk merendahkan dan menghina orang lain atas dasar ketidaksukaan terhadap konten kreator dan mirisnya lagi konten kreator YouTube malah secara tidak langsung sengaja menciptakan ekosistem dimana para haters untuk saling membenci dan saling melempar opini dari konten mereka, dan hanya memikirkan tentang bagaiamana konten mereka viral walau dengan cara yang salah.
Para pembuat konten youtube seharusnya perlu mempertimbangkan efek yang ditumbulkan dari konten yang mereka buat dan sepatutnya meminimalisasi terjadinya aksi serangan verbal dari para konsumen dari konten yang mereka hasilkan bukan malah sebaliknya dan dengan demikian maka akan menciptakan ekosistem yang lebih baik lagi di dalam dunia
maya.(*)