Opini
Bebas dan Transparan, Titik Perjumpaan Media Sosial dan Demokrasi
Narasi demokrasi dan teknologi digital bertemu pada muara yang sama, transparansi dan kebebasan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Relawan-TIK-Sulbar-Anggota-RAPI-Wil-03-Mamuju.jpg)
Oleh : Shalahuddin
Pandu Digital Indonesia dan Relawan TIK Sulawesi Barat
Perjumpaan demokrasi dan teknologi digital hari ini kian melekat, layaknya dua sisi mata uang. Keduanya bergerak dengan karakteristik dan memiliki narasi yang sama.
Narasi demokrasi dan teknologi digital bertemu pada muara yang sama, transparansi dan kebebasan.
Pada ragam platform media digital yang menyiapkan fitur interaksi seperti Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, TikTok dan sejenisnya, hari ini menjadi alur transmisi hingga transaksi yang ramai.
Tak terkecuali dalam jamak aktifitas yang menyulam tumpukan gagasan di sejumlah dinding akun media sosial itu. Semuanya bergerak bebas dan transparan.
Menariknya sebab gerak kebebasan di platform media sosial tersebut, kini dengan segenap tatanannya telah membentuk ragam lapisan komunal.
Disadari atau tidak, di sana ada kanal sosial baru tergabung dalam lintasan geografis yang boleh jadi cukup berjarak.
Meski demikian, mereka dipertemukan dan bersesuaian dengan kecenderungan paradigma masing-masing penggunanya.
Kelompok ini menjadi satu lapisan warga baru yang disebut netizen (warganet). Disana, pada platform digital itulah demokrasi bergerak menyulam kekuatannya yang baru.
Militansi, ekspresi hingga partisipasi masyarakat maya tampaknya disulam dengan apik.
Apalagi bila suasana kontestasi politik kian dekat. Nuansanya terasa makin kuat. Tentu dengan situasi tersebut akselerasi demokrasi dan teknologi digital ini menjadi tantangan bagi partai dan politisi.
Tak hanya mereka yang selama ini bergerak konvensional dengan mengandalkan media mainstream.
Tetapi demikian halnya politisi yang baru, sekalipun itu mereka sudah memiliki followers yang banyak.
Tak cukup dengan modal popularitas dijagat maya akan serta merta mendongkrak grafik elektabilitas. Sebab memperlakukan warganet tak sesederhana warga sebagaimana biasanya.
Pada platform digital sekelas media sosial, militansi masyarakat hanya dapat disulam dengan baik bila mereka diberi ruang partisipasi lebih dari sekedar partisipasi di bilik suara.