Selasa, 2 Juni 2026

Terlalu Gampang Baper? Mungkin Ini Alasan di Balik Sifat Sensitifmu

Psikolog Hernita Wijayaratna mengungkap bahwa sifat mudah tersinggung tidak selalu datang tiba-tiba. 

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Terlalu Gampang Baper? Mungkin Ini Alasan di Balik Sifat Sensitifmu
AI Gemini
BAPER PERASAAN- Kata atau istilah "baper" adalah akronim dari terbawa perasaan sudah menjadi bahasa gaul yang akrab di telinga kita. Kalimat ini sering digunakan untuk menyebut orang gampang tersinggung, bahkan oleh hal-hal sepele. 

TRIBUN-SULBAR.COM- Kata atau istilah  "baper" adalah akronim dari terbawa perasaan sudah menjadi bahasa gaul yang akrab di telinga kita. 

Kalimat  ini sering digunakan untuk menyebut orang  gampang tersinggung, bahkan oleh hal-hal sepele.

Namun, di balik leluconnya, baper ternyata punya akar yang lebih dalam.

Menurut psikolog Hernita Wijayaratna  sifat sensitif ini dipengaruhi oleh beragam faktor, mulai dari psikologis, pengalaman masa lalu, pola asuh, hingga pengaruh media sosial.

"Banyak faktor ya sebenarnya," ujar Pskilog bergelar titel M.Psi melansir Tribunnews.com, Sabtu  (16/8/2025)

Baca juga: Pesan Bupati Mamasa ke 71 Paskibra Sebelum Bertugas : Kibarkan Bendera Sepenuh Hati

Baca juga: Delapan Puluh Tahun: Merdeka, Belum Selesai

"Misalnya memang punya kepekaan yang tinggi, pengalaman masa lalu yang negatif, atau kurangnya keterampilan sosial sejak kecil." sambungya.

Psikolog Hernita Wijayaratna mengungkap bahwa sifat mudah tersinggung tidak selalu datang tiba-tiba. 

Ada banyak hal yang membentuknya, bahkan sejak seseorang masih kecil.

“Banyak faktor ya sebenarnya. Misalnya memang punya kepekaan yang tinggi, pengalaman masa lalu yang negatif, atau kurangnya keterampilan sosial sejak kecil,” jelas Hernita pada talkshow kesehatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan secara virtual, Jumat (15/10/2025). 

Baper Bukan Sekadar Emosi Negatif

Dalam dunia psikologi, baper sering dikaitkan dengan munculnya emosi negatif seperti marah, sedih, atau bingung. 

Semua orang punya emosi negatif maupun positif. Yang membedakan adalah cara mengelolanya.

Menurut Hernita, orang yang tingkat “cedera emosinya” rendah biasanya lebih cepat bereaksi terhadap pemicu, atau stimulus, yang mengganggu perasaan. 

Hal ini membuat mereka cenderung reaktif berlebihan.

Misalnya, sebuah komentar yang sebenarnya netral bisa memicu dua reaksi berbeda. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved